Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Selasa, Agustus 27, 2013

BERLINDUNG DARI ILMU YANG TIDAK BERMANFA’AT


Tidak diragukan lagi tentang keutamaan orang berilmu di sisi Allah, seperti telah diterangkan Allah SWT di dalam Kitab suci Al Quran atau dinyatakan Nabi SAW melalui hadits-hadits beliau; yaitu apabila orang yang berilmu itu adalah mukmin yang mantap dengan keimanannya.

“….Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 58. Al Mujaadilah: 11)

Dalam hadits Nabi SAW dinyatakan bahwa: “Barangsiapa yang menempuh suatu perjalanan dalam rangka untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga. Tidaklah berkumpul suatu kaum disalah satu masjid diantara masjid-masjid Allah, mereka membaca Kitabullah serta saling mempelajarinya kecuali akan turun kepada mereka ketenangan  dan rahmat serta diliputi oleh para malaikat. Allah menyebut-nyebut mereka dihadapan para malaikat.” (HR. Muslim)

Sungguhpun demikian, apabila ilmu yang kita diperoleh adalah menambah tipis keimanan dan menambah jauh kita dari Allah, maka ilmu yang demikian adalah ilmu yang tidak bermanfa’at bahkan menjerumuskan…

Adalah suatu yang mengherankan apabila seseorang sudah meraih gelar kesarjanaan dalam ilmu-ilmu keislaman sehingga dia-pun dijuluki orang sebagai profesor di bidangnya, namun ilmu yang diperolehnya tadi ternyata menambah keraguannya kepada Allah, atau menggoyahkan kepercayaannya kepada prinsip-prinsip iman dan Islam… Lalu, orang tersebut tampil sebagai sosok yang malas beribadah kepada Allah serta melupakan kewajibannya sebagai muslim yang beriman. Orang berilmu sedemikian rupa, bukan hanya celaka, bahkan mencelakakan orang lain, maka “waspadalah kamu atas ketersesatan orang-orang berilmu!”

Nabi SAW mengungkapkan dalam do’a ta’awwuz (permohonan perlindungan)nya sebagai berikut:

اللَّهمَّ إني أعوذ بك من العجْزِ ، والكَسَلِ ، والجُبنِ ، والبُخْلِ والهَرَمِ ، وعذاب القبر ، اللَّهمَّ آتِ نَفسي تَقْوَاها ، وزَكِّها أَنت خَيرُ مَنْ زكَّاهَا ، أَنتَ وَلِيُّها ومولاها، اللَّهمَّ إِني أَعوذ بك من علم لا ينفعُ ، ومن قَلبٍ لا يَخشَع ، ومن نَفسٍ لا تشبع ، ومن دعوة لا تُستَجَاب

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari lemah, malas, penakut, bakhil, pikun dan azab kubur…  Ya Allah! Berikanlah kepada jiwaku ketaqwaannya, dan sucikanlah dia! Engkaulah sebaik-baik Yang menyucikannya. Engkaulah Penolong dan Pembelanya… Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari ilmu yang tidak bermanfa’at,  dari hati yang tidak khusyu’ , dari nafsu yang tidak pernah puas dan dari do’a yang tidak diperkenankan!” (HR. Muslim)

Semoga Allah SWT melindungi kita dari ilmu yang tidak bermanfa’at!

UG- Selasa 27/08/2013 pukul 7:08:07

Senin, Desember 01, 2008

Bahaya Berita Fasik

FASIK PENGHANCUR BANGUNAN
MASYARAKAT ISLAM
*Bahaya Berita Fasik

Suatu ketika Nabi mengutus Walid bin 'Uqbah bin Abi Mu'ith untuk memungut zakat Bani Mustaliq. Ia menerima tugas itu tanpa ragu-ragu. Tetapi syethan telah menggoda hatinya dan menggoncangkan imannya. Ia merasa was-was untuk pergi ke Bani Mustaliq itu, karena khawatir kalau dirinya akan dibunuh. Di tengah jalan, sambil memperlambat jalan untanya, ia bimbang dan ragu, berat rasanya untuk memenuhi tugas yang dibebankan Nabi, sebab jiwanya pengecut. Maka diputuskannya lagi untuk kembali ke Medinah.

Setelah sampai di sana, ia bercerita kepada Nabi:
"Bani Musthaliq kini telah kembali kafir. Mereka tidak mau menunaikan zakatnya, dan bahkan mereka sudah sepakat untuk menyerang kaum muslimin." (H.R. Ahmad dalam Musnad).

Tentu saja Nabi memberikan perhatian sangat serius dengan berita yang dibawa Walid itu; bahwa mereka telah kafir, tidak mau berzakat, dan bahkan akan memerangi ummat Islam!

Suatu kejutan dan berita gawat bagi Nabi dan kaum muslimin!
Di tengah kemarahan itu Nabi menyadari sendiri, bahwa kemarahan tidak dapat diselesai-kan dengan kemarahan juga, tetapi dengan: "Mohon perlindungan kepada Allah dari syethan terkutuk".

Telah bulat tekad nabi untuk memerangi Bani Mustaliq, kalau tidak karena Allah mencegah pertumpahan darah itu. Melalui wahyuNya, Allah memerintahkan Nabi agar mengecek kebenaran berita Walid bin Uqbah. Kurir yang dipercayai untuk mengadakan pengecekan dengan tiba-tiba ini adalah pedang Allah, Khalid bin Walid, duta Nabi dan kepercayaan Islam.

Berangkatlah Khalid ke Bani Mustaliq. Di batas kota ia berhenti untuk mencari informasi dari penduduknya tentang sikap mereka yang sesungguhnya. Ternyata apa yang ia dengar langsung adalah berita baik-baik saja, dan tidak ada yang harus ditakutkan. (Ahmad Muhammad Jamil, "Al-Qashashu al-Rumuzi fi al-Quran al-Karim", (terjemahan) pag. 116-118)

Sehubungan dengan kasus di atas, maka turunlah ayat 6 sd 8 surat Al-Hujurat (49):
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpa-kan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.(QS. 49:6)

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (QS. 49:7)
sebagai karunia dan ni`mat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 49:8)

DEFINISI FASIK

Perbuatan Walid bin Uqbah di atas disebut Allah sebagai perbuatan orang fasik, dan berita yang bersumber dari orang fasik hendaklah diteliti, agar kita tidak menyesal di belakang hari. Lalu apakah yang dimaksud dengan fasik itu?
Kata "fasik" adalah berasal dari bahasa Arab "fasaqa" yang mengandung pengertian sebagai berikut:

Menurut Ibnu Umar: asal "al-fisq" adalah keluar/ menyimpang dari sesuatu (أصل الفسق الخروج من الشيء) seperti firman Allah "maka ia (iblis) fasik dari perintah Tuhannya", maksudnya, "iblis keluar dari perintah". Seseorang dinamakan fasik, karena ia telah terlepas dari perbuatan baik (وسمي الرجل فاسقا لا نسلاخه من الخير). (Al-Gharib lil Khatthaabi Jilid I hal 603)

Di dalam hadits misalnya kita jumpai:
في حديث النبي أنه قال خمس فواسق يقتلن في الحل والحرم الفأرة والعقرب والحدأة والغراب الأبقع والكلب العقور
"Lima jenis fasik yang dibunuh pada waktu halal dan haram (tahallul dan ihram): Tikus, kalajengking, burung elang, burung gagak yang belang putih dan hitam, serta anjing liar."
قال ابن قتيبة لا أرى الغراب سماه فاسقا إلا لتخلفه عن أمر نوح حين أرسله ووقوعه على الجيفة وعصيانه إياه وحكي عن الفراء أنه قال لا أحسب الفأرة سميت فويسقة إلا لخروجها من جحرها على الناس
Ibnu Qutaibah berkata: "Aku berpendapat bahwa burung gagak dinamakan fasik hanya karena penyelewengannya atas perintah Nuh yakni sewaktu beliau mengutusnya, dan gagak bertengger di atas bangkai dan mendurhakai Nuh". Lalu orang menyebut tikus, maka ia mengatakan: "Aku kira tikus disebut fuwaisiqah (si kerdil fasik) hanya karena ia keluar dari lobang persembunyiannya kepada manusia." (Al-Gharib, ibid)
Bila kita meneliti kasus yang menjadi sebab turun ayat di atas, dimana Allah SWT menyebut Walid bin Uqbah sebagai fasik, maka sifat perbuatannya adalah sebagai berikut:
1. Mudah menerima suatu tugas tetapi tidak bertanggung jawab.
2. Karena sifat pengecut, maka ia menebarkan issue bohong atas Bani Musthaliq.
3. Demi kepentingan pribadinya, maka ia tidak menghiraukan bahaya pertumpahan darah yang membahayakan masyarakat banyak.
Sifat-sifat Walid bin Uqbah ini adalah sifat munafik tulen. Jadi munafik sekaligus disebut fasik.

Rasulullah SAW bersabda:
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
"Tanda munafik itu ada tiga; Apabila berbicara ia berdusta, apabila berjanji ia mungkiri dan bila ddiberi amanat ia berkhianat" (HR. Bukhari/ Al-Iman/ 32; Muslim/ fil Imam/ 89; At-Turmuzi/ fil Imam/ 2555; An-Nasa'i/ fil Imam wa syara'iihi/ 4935, dan Ahmad/ Musnad II/ 357,397,536)

Berdasarkan keterangan para ulama, maka fasik dapat disimpulkan dengan:
Segala perbuatan yang keluar dari ketaatan./ Segala perbuatan yang keluar dari istiqamah (keteguhan memegang prinsip agama)/ Segala perbuatan maksiat/ Segala kedurhakaan/ Segala kebohongan./ Segala pengkhianatan atas agama. (Lihat: Mukhtaru al Shihhah, Jilid I/ hal. 206; Al-Gharib lil Khattaabi Jilid I hal 603; Al-Faiq, Jilid III, hal. 55, 116; an-Nihayah fi Gharib al-hadis, Jilid III, hal 446; Lisanul Arab, Jilid IV hal. 225, Jilid V, hal 47, 144, Jilid X, hal 208, dan Jilid XII hal. 270).

KEHANCURAN UMMAT ISLAM

Kasus yang terjadi pada masa Rasulullah SAW yang menyebabkan turunnya surat Al-Hujurat di atas sekaligus menggambarkan bahaya kefasikan sebagai ancaman bagi keutuhan ummat Islam. Oleh sebab itu, segala berita atau sepak terjang orang-orang fasik harus diwaspadai.

Di samping kasus Walid bin Uqbah juga terdapat kasus turunnya surat An-Nur ayat 11-20:

'Aisyah isteri Rasulullah SAW ikut bersama beliau dalam perang Bani Musthaliq. Tetapi ia ketinggalan baju rompinya. Maka ia kembali ke belakang, ke arah Medinah, diantar oleh satu regu tentara senior.

Di tengah perjalanan kembali itu terlepas pula kalungnya, lalu hilang. Karena itu ia mengulangi jejak sendirian dan mencarinya agak lama.
Seorang dari regu pengawal merasa khawatir, lalu melacak di mana 'Aisyah berada. Kuda 'Aisyah terlihat minggat membawa sekedupnya.

Kalung ditemukan oleh sang pengawal. Dan pada waktu itu 'Aisyah tinggal seorang diri di padang pasir. Ia kedatangan rasa kantuk, lalu tertidur dibuai angin sahara.
Pagi haripun datang, dan 'Aisyah bangun dari tidurnya. Tiba-tiba ia melihat Shafwan bin Muatthal sedang menjemput sesuatu yang terjatuh atau tercecer. 'Aisyah melihat Shafwan dan mendengarnya mengucapkan kata-kata: Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.
Setelah menjemput kalung yang tercecer, kemudian Shafwan membawa kembali 'Aisyah ke dalam rombongan untuk selanjutnya bergabung dengan rombongan Nabi SAW. Hati Shafwan lega, sebab ia telah menyelamatkan seorang yang paling dicintai Nabinya, dan 'Aisyah juga gembira karena sudah dapat berkumpul kembali dengan suami dan keluarga besarnya, setelah ia terpencil sendirian di padang pasir.
Namun demikian kegembiraan 'Aisyah belum tuntas, karena diikuti dengan banyaknya issue, berita bohong, fitnah dan gosip-gosip.
'Aisyah isteri Nabi, anak seorang sahabat terhormat dari keturunan bangsawan mulia itu difitnah ada main dengan Shafwan, seorang anak Mu'atthal, pahlawan dan sahabat yang mati syahid".

Alangkah bohong berita itu!
Paling tandas dalam mengeksos berita itu dan penyebar luasnya di kalangan masyarakat adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Nah, mulut-mulut usil mulai berbisik-bisik di pasar dan di tempat-tempat yang banyak orang-orang berkumpul, sehingga dalam waktu relatif singkat, meratalah kabar bohong itu. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Abdullah bin Ubay untuk melampiaskan sakit hati dan menuruti ambisinya.
Alangkah keji tindakannya itu!

Nabi pun sedih bercampur masygul. Begitu pula keluarga Abu Bakar. Beliaupun sampai mengerutkan keningnya, kepada siapa beliau akan menanyakan sesuatu yang akan bisa menghilang-kan kemasygulannya tentang 'Aisyah. Kepada sahabat-sahabat beliaukah? Atau kepada keluarga 'Aisyah? Atau isteri-isteri Nabi yang lain? Atau langsung kepada 'Aisyah?

Mereka semua menyaksikan kebenaran dan kesucian 'Aisyah, tetapi bagi 'Aisyah sendiri berita bohong itu sebagai pukulan hebat. Lalu dia datang menemui ayahnya: "Perlukah aku menjelaskan kepada Rasulullah?", katanya. "Atau ayah ibukah yang harus menerangkan persoalannya kepada beliau?"

Keduanya ragu-ragu dan bingung, bagaimana dan apa yang harus mereka katakan, haruskah mereka berdiam diri hingga turun ayat kepada Nabi?
"Demi Allah, kami tidak tahu bagaimana kami akan menjawab", kata mereka.
Setelah kedua orang tuanya tidak dapat berbuat apa-apa dan dadanya sesak bernafas, maka keduanya hanya dapat berkata:
"Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah tempat memohon pertolonganNya terhadap apa yang kamu ceritakan? (Yusuf: 18)
Jawaban mereka persis seperti jawaban Ya'kub yang kehilangan Yusuf, anak yang sangat disayang dan dicintainya.

Allah tidak menyia-nyiakan kesabaran yang suci dan murni dari 'Aisyah yang mulia, atas musibah yang menimpanya, bahkan juga musibah bagi kaum muslimin dan muslimat di saat itu, hingga Allah menurunkan ayat-ayat kepada Nabi Muhammad SAW. (Ahmad Muhammad Jamil, "Al-Qashashu al-Rumuzi fi al-Quran al-Karim", op.cit hal 18-21)

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. (QS. 24:11)

Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (QS. 24:12)

Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta. (QS. 24:13)

Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (QS. 24:14)

(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar. (QS. 24:15)

Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar." (QS. 24:16)
Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman, (QS. 24:17)
dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 24:18)

Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui. (QS. 24:19)
Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar). (QS. 24:20)

PENUTUP

1. Kita ummat Islam hendaklah mawas diri dari perilaku fasik, karena kefasikan itu adalah dimurkai Allah SWT, berbahaya bagi diri kita sendiri dan bagi masyarakat umumnya.
2. Seharusnya ummat Islam waspada atas segala tindak-tanduk orang-orang fasik, terutama menanggapi segala berita yang berasal dari mereka yang mungkin menimbulkan fitnah di kalangan ummat manusia umumnya, dan ummat Islam khususnya.
Ahmad Muhammad Jamil mengatakan:
"Amatlah disayangkan, bahwa sebelum dan sesudah ini kita masih sering terperangkap dalam keragu-raguan, terpukul oleh berita-berita bohong, provokasi (hasutan), isu-isu, gosip dan berbagai infiltrasi (penyusupan) yang sangat merugikan kita sendiri. Berapa banyak fitnah dan langkah politik yang melarutkan kita ke dalam penyesalan, sehingga ummat Islam terpecah belah, melepaskan tali kekeluargaan, persaudaraan dan perdamaian." (Al-Qashashu al-Rumuzi fi al-Quran al-Karim:, (terjemahan) op.cit pag. 118)
3. Jika berita orang fasik saja bisa mengancam keselamatan ummat, maka lebih berbahaya lagi apabila yang menjadi pemimpin ummat adalah orang-orang fasik itu sendiri. Oleh sebab itu, hendaklah kita menjauhi pemimpin yang fasik dan tidak memberikan loyalitas kepada mereka, sampai mereka kembali kepada prinsip Islam yang sebenarnya. Wallahu a'lam.

Jumat, Agustus 29, 2008

zakat

AMIL ZAKAT DALAM PANDANGAN SYARI’AT

Upaya Mengoptimalkan Fungsi Zakat di Indonesia

Oleh: Abdul Muis Mahmud *)


Abstrak
Apabila kita memperhatikan kajian Fiqih Islam tentang Pengelolaan Zakat, ternyata para fuqahak mewajibkan pemerintah umat Islam untuk mengangkat dan menugaskan Amil Zakat, yaitu berdasarkan kepada perbuatan Nabi SAW dan para khalifah sepeninggal beliau, yang mengirim (menunjuk dan mengangkat) petugas pemungut/ pengelola zakat…
Umat Islam Indonesia sepatutnya bersyukur kepada Allah SWT dimana telah diundangkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, dan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 581 Tahun 1999 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 33 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat. Dan… dengan diundangkan Undang-undang dimaksud, maka diharapkan bahwa; pengelolaan Zakat di Indonesia, akan lebih optimal dan lebih berdaya guna bagi kaum muslimin sesuai dengan aturan Islam itu sendiri.

PENDAHULUAN

Zakat merupakan amal ibadah yang telah berusia lama, dan termasuk syari’at yang telah diwajibkan Allah SWT kepada umat berlalu; sebelum umat Islam.[1] Berdasarkan sejumlah hadits dan laporan para sahabat dan setelah kita membaca sejarah penetapan rukun-rukun Islam yang ada sekarang, maka kita mengetahui bahwa shalat lima waktu adalah rukun pertama yang wajib dijalankan oleh kaum Muslimin, yaitu di Makkah pada malam peristiwa Isra’ sesuai dengan fakta. Kemudian baru puasa yang diwajibkan di Madinah pada tahun 2 H bersamaan dengan zakat fithrah yang merupakan sarana penyucian dosa, dan perbuatan tidak baik bagi yang berpuasa, dan sarana pemberian bantuan kepada orang-orang miskin pada ‘idul fithri. Setelah itu barulah diwajibkan zakat kekayaan (zakat amwal), yaitu zakat yang sudah tertentu nisab dan besarnya, tetapi kita tidak menemukan dalil yang pasti tahun berapa penegasan itu datang. Dalam hadis yang berasal dari Dimam bin Tsa’labah yang datang menemui Rasul pada tahun 5 H dapatlah dipandang sebagai dalil yang lebih kuat bahwa zakat sudah diwajibkan dan dilaksanakan sebelum tahun itu, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Hafiz Ibnu Hajar[2]
Selanjutnya, untuk mengoptimalkan fungsi zakat dalam kehidupan kaum muslimin, maka syari’at mewajibkan pemerintah umat Islam untuk menunjuk dan menugaskan pengelola zakat, yang disebut dengan “Amil Zakat”.
Alhamdulillah, di Indonesia, Pengelolaan Zakat telah diundangkan melalui Undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, dan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 581 Tahun 1999 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 33 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat… Sungguhpun telah berusia sembilan tahun, namun pengaplikasian Undang-undang tersebut ternyata menghadapi kendala yang signifikan di lapangan.
Melalui kertas kerja ini, penulis mencoba untuk menyoroti “Amil Zakat Dalam Pandangan Syari’at”, dan diharapkan akan dapat memberikan masukan positip bagi semua lapisan masyarakat muslim Indonesia, dalam pengelolaan zakat, pada masa-masa mendatang.
AMIL ZAKAT[3]
Apabila kita menelusuri pelaksanaan zakat pada masa Rasulullah SAW dan para khulafa al rasyidin sepeninggal beliau, maka fakta menunjukkan bahwa pengelolaan zakat adalah di bawah kontrol kepala pemerintahan dengan menunjuk pengurus zakat yang disebut dengan “amil zakat”. Perbuatan Nabi SAW dan para khalifah itulah yang dijadikan oleh para fuqahak (ahli fikih) sebagai dasar hukum yang mewajibkan Imam (kepala pemerintahan) untuk mengirim (menunjuk dan mengangkat) petugas pemungut/ pengelola zakat…, inilah persoalan masyhur dan dikenal luas.[4] Di antaranya hadits Abu Hurairah bahwa; “Rasulullah SAW mengutus Umar bin Khattab r.a. untuk memungut zakat…”.[5]. Al Bukhari meriwayatkan hadits yang bersumber dari Abu Hamid As Sa’idi, bahwa Rasulullah SAW mempekerjakan seorang laki-laki dari Bani Asad untuk memungut zakat Bani Sulaim, yang bernama Ibnu al Lutbiyyah, maka tatkala dia datang, diapun menghitungnya”,[6] dan banyak hadits-hadits lain tentang bab ini.
Jadi, amil zakat, meminjam definisi Sayyid Sabiq dan Abdurrahman Al Jazairi, adalah orang-orang yang ditunjuk oleh imam (kepala negara) atau wakilnya untuk mengumpulkan zakat dari orang-orang kaya, termasuk di dalamnya para penjaga zakat, para pengembala ternaknya dan tenaga administrasinya.[7]
Menurut Abu Ishaq dan Imam An Nawawi, (Imam/ kepala pemerintahan wajib mengangkat amil/ petugas pengelola zakat): “Karena ada orang yang memiliki harta kekayaan, tetapi dia tidak mengetahui kewajiban yang dipikulkan kepadanya, dan ada pula yang sudah mengetahui kewajiban, tetapi yang bersangkutan adalah bakhil, maka pemerintah berkewajiban mengutus petugas untuk memungut zakatnya.”[8]

SYARAT-SYARAT AMIL

Para ulama mensyaratkan amil atau petugas pengelola zakat sebagai berikut:
Pertama: Amil mesti beragama Islam, amil adalah pengurus urusan ummat Islam, seperti pengurus urusan ummat Islam yang lain, yang bersangkutan disyaratkan beragama Islam. Kecuali untuk pekerjaan yang tidak berkaitan langsung dengan “memungut dan pendistribusian zakat”, seperti menjadi satpam dan sopir pada Badan amil zakat.
Menurut Ibnu Qudamah, pekerjaan dalam mengelola zakat disyaratkan bersifat amanah, lantaran itu menjadi amil zakat disyaratkan beragama Islam, sama dengan syarat menjadi saksi (harus beragama Islam juga). Amil zakat mengurus urusan kaum muslimin - seperti halnya mengelola urusan kaum muslimin yang lain -, maka orang kafir tidak dibenarkan ikut serta menjadi amil…[9]
Kedua: Amil adalah Mukallaf; baligh dan berakal.
Ketiga: Amil mestilah orang yang amanah (dipercayai). Karena amil zakat diberi amanah untuk mengurus harta kekayaan kaum muslimin, maka amil zakat tidak boleh diangkat dari kalangan orang fasik atau khianat, misalnya orang yang melakukan korupsi dan manipulasi, atau pelanggaran lainnya.
Keempat: Mengetahui hukum zakat.
Menurut Al Qardhawi: Para ulama mensyaratkan amil zakat hendaklah mengetahui hukum-hukum zakat. Jika seseorang diserahi suatu tugas, sementara yang bersangkutan jahil (bodoh) dengan tugasnya ini, maka tidaklah mungkin ia akan menjalankan tugas dengan baik; kesalahannya akan lebih banyak dari benarnya.[10]
Kelima: Bersedia menerima tugas. Amil hendaklah bersedia menerima tugas, cakap dan sanggup mengemban tugas yang dipikulkan kepadanya. Bersifat amanah saja belumlah cukup kalau tidak dibarengi oleh kemampuan dan kesanggupan untuk bekerja. Firman Allah, yang terjemahannya: “…karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya".(Qs. Al Qashash: 26), lantaran demikian Yusuf berkata kepada raja, yang terjemahannya: "Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan". (Qs. Yusuf: 55) Pandai menjaga, maksudnya amanah, sedang berpengetahuan maksudnya mempunyai pengetahuan yang memadai.[11]
Keenam: Tidak dari kalangan keluarga Nabi SAW yakni Bani Hasyim. Mayoritas Ulama mensyaratkan amil zakat tidak boleh dari kalangan keluarga Nabi.
Al Fadhal bin Al ‘Abbas dan Al Mutthalib bin Rabi’ah pernah meminta kepada Nabi SAW untuk dipekerjakan memungut zakat. Salah seorang mereka berkata: Wahai Rasulullah, kami datang kepadamu agar engkau perintahkan kepada kami untuk memungut zakat, supaya kami mendapat manfa’at seperti yang diperoleh manusia lain, dan agar kami menunaikan perintahmu seperti ditunaikan manusia lain. Lantas Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya zakat tidak pantas bagi Muhammad dan tidak pantas bagi keluarga Muhammad, zakat itu hanyalah kotoran (harta) manusia.”[12]
Bolehkah perempuan menjadi amil zakat?
Ketujuh: Sebagian ulama mensyaratkan amil zakat adalah laki-laki. Mereka tidak membolehkan perempuan menjadi pengelola zakat dengan dalil sabda Nabi SAW yang bermaksud: “Suatu kaum sama sekali tidak akan beruntung, bila urusan mereka dikendali-kan oleh perempuan [lan yufliha qaumun wallaw amrahum imraatun].”[13]
Menurut Al Qardhawi: hadits ini berlaku pada wilayah umum dimana perempuan sebagai penguasa (shahibatul amri wan nuha). Adapun menjadi pegawai seperti pengelola zakat, maka tidak termasuk ke dalam daerah terlarang pada hadits yang mulia ini.
Sebagian mereka menjadikan dalil bahwa perempuan tidak pernah dicatat menjadi petugas pengelola zakat, yang menunjukkan bahwa perempuan tidak boleh menjadi amil zakat. Hal ini, menurut Al Qardhawi, tidak dapat dijadikan dalil/ hujjah. Karena situasi dan kondisi perempuan di bidang ekonomi dan sosial pada masa lampau tidak memungkinkan mereka menerima pekerjaan ini. Jadi di sini orang meninggalkan amalan yang tidak ada dalil pengharamannya.[14]
Yang lain berpendapat: Zahir ayat menunjukkan “wal ‘aamiliina ‘alaiha” (At Taubah: 60) tersebut tidak mencakup perempuan, karena “al ‘aamiliin” adalah jamak muzakkar (maskulin) (lihat: Syarah Ghayah al Muntaha: II/ 137). Jika asumsi ini diterima kebenarannya, maka kaum perempuan tidak dapat dimasukkan ke dalam golongan “fuqarak”, “gharimin”, dan “ibnu sabil”, karena semua kata-kata ini adalah berbentuk muzakkar (maskulin). Pandangan seperti itu adalah berlawanan dengan ijmak, karena kaum perempuan dalam hal tadi adalah disamakan dengan laki-laki, meskipun dialog dan ungkapan kata (dalam ayat itu) adalah berbentuk muzakkar. Tegasnya, tidak ada dalil khusus yang melarang perempuan bekerja sebagai pengelola zakat. Sungguhpun begitu ada kaedah umum yang mengharuskan perempuan bersikap malu, dan menjauhkan diri daripadanya, yaitu; kewajiban untuk menjauhkan diri dari berdesak-desakan, bersaing dan bercampur baur dengan laki-laki tanpa hajat (keperluan yang memaksa), kaedah itulah yang menjadikan laki-laki lebih pantas dari perempuan menerima pekerjaan (amil zakat) ini. Kecuali pada batas tertentu, seperti kaum perempuan dipekerjakan untuk mendistribusikan zakat kepada perempuan-perempuan janda dan perempuan renta, dan sebagainya, dimana perempuan dinilai lebih mampu dan lebih bermanfa’at dari laki-laki, atau sekurang-kurangnya, lebih memadai, itulah bidang pekerjaan yang sesuai dengan kudrat perempuan yang dibenarkan syari’at.[15]
Kedelapan: Di antara ulama mensyaratkan amil zakat hendaklah orang merdeka, tidak boleh hamba sahaya. Pendapat ini ditolak oleh ulama lain dengan hadits riwayat Ahmad dan Al Bukhari, bahwa Rasulullah SAW bersabda, yang bermaksud: “… dan hendaklah kamu mendengar dan menta’ati, dan meskipun untukmu bekerja seorang budak habsyi yang kepalanya seolah-olah kismis/ anggur kering [wasma’uu wa athii’uu wa in ista’mala ‘alaikum ‘abdun habasyiyyun ka anna raksahu zabiibatun]” dengan demikian budak disamakan dengan orang merdeka [16]

AMIL ZAKAT DI INDONESIA

Dalam perjalanan sejarah yang panjang, perkembangan Islam telah merambah ke segenap penjuru dunia, termasuk ke nusantara yang diperkirakan masuk pada abad pertama hijrah (abad 7 a 8 Masehi) langsung dari tanah Arab. Demikian menurut Hasil Seminar Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia yang diselenggarakan di kota Medan pada 17-20 Maret 1963;[17] Namun, dalam rentang waktu yang sedemikian rupa, ternyata pengelolaan zakat di Indonesia belum berjalan menurut semestinya. Zakat ditunaikan oleh orang perorang tanpa pengelolaan yang baik, sehingga zakat tidak membawa manfa’at yang signifikan dan berdayaguna bagi kehidupan sosial kaum muslimin. Pada hal zakat adalah salah satu rukun Islam yang seringkali diperikutkan dengan kata shalat di dalam Al Quran, kurang lebih pada 82 ayat[18] … Kajian zakat hanya terbatas pada kajian ilmiah dan menghiasi literatur-literatur perpustakaan yang hanya dapat dicerna oleh kaum akademisi dan kalangan ulama tertentu…
Meskipun kita mendengar istilah “amil zakat” diucapkan masyarakat, namun istilah ini mengandung pengertian yang kurang tepat, karena biasanya dipergunakan untuk sebutan panitia pengumpul zakat fithrah pada akhir bulan Ramadhan, yang sifatnya insidentil. Panitia insidentil ini hanya bersifat swadaya, bukan permanent seperti yang dikendaki oleh ketentuan syari’at.
Secara yuridis formal pengelolaan zakat di Indonesia mulai diundangkan melalui “Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat” dan “Keputusan Menteri Agama RI Nomor 581 tahun 1999 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat”. Sedangkan tujuan dari undang-undang tersebut dituangkan pada Pasal 5 Pengelolaan zakat bertujuan: 1. meningkatkan pelayanan bagi masyarakat dalam menunaikan zakat sesuai dengan tuntunan agama; 2. meningkatkan fungsi dan peranan pranata keagamaan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial; 3. meningkatnya hasil guna dan daya guna zakat...
Meskipun Undang-undang itu telah berusia sembilan tahun, namun pengaplikasian di lapangan ternyata mengalami berbagai hambatan yang cukup memprihatinkan.
Di antara hambatan tersebut adalah:
1. Kurangnya perhatian dan sosialisasi Undang-undang Zakat kepada masyarakat luas oleh pihak pemerintah; terutama dalam penyediaan dana dan sumber daya manusia yang komprehenship.
2. Imej masyarakat yang terlanjut keliru dalam memahami pentingnya pengelolaan zakat melalui amil.
3. Kurangnya tenaga Pengelola Zakat yang propesional dan dipercayai masyarakat.

KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah kita melihat posisi amil zakat, atau badan pengelola zakat dalam pandangan syari’at Islam, yang menurut para ulama fikih, wajib diwujudkan oleh pemerintah, maka sudah pada tempatnya seluruh kaum muslimin di Indonesia berpartisipasi aktif mensosialisasikan penerapan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 38 tahun 1999 dimaksud. Dan kelemahan-kelemahan yang ada pada undang-undang tersebut agar disempurnakan lagi pada masa-masa mendatang.
Kita menyadari bahwa kendala terbesar dalam mewujudkan badan pengelola zakat yang komprehensip di Indonesia adalah imej masyarakat yang terlanjur keliru yang menganggap amil zakat sebagai hal yang tidak penting dalam syari’at, di samping faktor-faktor lain, tentunya, seperti gangguan atas kepentingan pribadi tertentu. Semua tantangan tersebut, Insya Allah akan dapat kita atasi, bila kita (dengan niat yang ikhlash mengharap-kan ridha Allah) saling bekerja sama. Pemerintah memperlihatkan keseriusannya, dan seluruh ulama, para ustaz dan muballigh, para pendidik dan para tokoh masyarakat muslim, berperan serta memberikan penerangan yang benar kepada masyarakat.…
Kemudian, kita menumbuhkan tenaga pengelola zakat yang propesional, yang amanah dan dipercayai ummat… karena sesungguhnya banyak sekali amal ibadah sosial dalam Islam berantakan, karena orang yang diberi tanggung jawab mengelolanya, ternyata kurang terjamin keamanahannya. Atau ada yang dinilai amanah tetapi tidak memiliki ilmu memadai sehingga jauh dari profesionalisme. Inilah yang tersimpul dalam terjemahan maksud sabda Rasulullah SAW ketika ada orang bertanya: “Wahai Rasulullah kapankah kiamat itu? Beliau menanggapi: “Bila amanat sudah hilang, maka tunggulah saat kehancurannya.” Orang bertanya: “Bagaimana menghilangkannya?” Nabi bersabda: “Bila sesuatu diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.”[19]
Akhirnya, “bila kamu bertekad akan melakukan suatu pekerjaan, maka bertawakkalah kamu kepada Allah” (Terjemahan, Qs. Ali Imran: 159). Semoga saja Badan Amil Zakat yang telah terbentuk memenuhi kriteria yang kita butuhkan, dan semoga Allah SWT meridhai kita semua. Amin! . Wallaahu a’lamu bis shawab.

DAFTAR PUSTAKA

1. Al Quranul Karim
2. Abu Ja’far, Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Khalid Al Thabary (224-310H), “Tafsir al Thabary”, 1405 H, Beirut: Daar al Fikr.
3. Al Qurthuby, Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar “Tafsir Al Qurthuby”, 1372 H, cetakan II, muhaqqiq: Ahmad Abdul ‘Alim Al Burduny Al Qahirah: Dar as-Sya’b.
4. Ad Dimasqy, Ismail bin Umar bin Katsir, “Tafsir Ibnu Katsir”, 1401 H, t.th. Beirut: Dar al-Fikr.
5. Al Bukhari, Muhammad bin Isma’il Abu Abdillah, “Shaheh Al Bukhari”, 1987 M/ 1407H, cetakan III, editor: Dr. Mushtafa Dif al Bagha, Beirut: Dar Ibnu Katsir, al Yamamah.
6. An Naisabury, Muslim bin Al Hajjaj Abul Husain Al Qusyairy, “Shaheh Muslim”, t.th. editor: Muhammad Fuad Abdul Baqy, Beirut: Dar Ihyaai Turats al ‘Araby.
7. Al Busty, Muhammad bin Hibban bin Ahmad Abu Hatim At Tamimy, “Shaheh Ibnu Hibban bi Tartib Ibni Balban”, 1414 H 1993 M, Beirut: Muassasah al Risalah.
8. Abu Muhammad, Abdullah bin Ahmad bin Qudamah Al Muqaddisy, “Al Mughny fi Fiqh al Imam Ahmad bin Hanbal al Syaibany”, cet: I 1405H, Beirut: Daar al Fikr.
9. Abdullah bin Ali bin Al Jarud Abu Muhammad An Naisabury, “Al Muntaqa li Ibnil Jarud” 1408 H 1988M, cet: I, Muassasah Al Kitab al Tsaqafiyah, Beirut.
10. DR. Yusuf al Qaradlawy\فقه الزكاة\HTM.
11. Abdurrahman Al Jazairi, “Al Fiqh Ala al Madzahib al Arba’ah”, (t.t) Daar al Fikr, Beirut.
12. Sayyid Sabiq, “Fiqh Al Sunnah”, 1403H 1983M, cet. IV, Daar al Fikr, Beirut.
13. H. Saifuddin Zuhri “Sejarah Kebangkitan Islam Dan Perkembangannya di Indonesia”, 1981 cet.III, PT. AlMa’arif, Bandung.
14. Elias. A. Elias, “Qaamus Al Ashry/ Elias Modern Dictionary, Arabic – English”, 1979 H, edisi XII, Kairo: Syirkah Daarul Elias al Ashriyyah.
15. Poerwadarminta, W.J.S, “Kamus Lengkap; Inggris - Indonesia, Indonesia – Inggris”, 1982 M, cetakan 2, Bandung: Hasta.
16. Yunus, Mahmud “Kamus Arab – Indonesia”, 1990 M/ 1411 H, cetakan VIII, Jakarta: PT. Hidakarya Agung.
17. http://www.gotquestions.org/Indonesia/Kristen-perpuluhan.htm
18. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, dan Keputusan Menteri Agama RI Nomor 581 Tahun 1999 Tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 33 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat.

*)Penulis, adalah Ketua Forum Cendikiawan Muslim (FCM) Pasaman Barat, dan anggota MUI Kabupaten Pasaman Barat, Sumbar. Naskah ini dipersiapkan sebagai bahan Muzakarah MUI Propinsi Sumatera Barat dengan MUI Kabupaten/ Kota se-Sumatera Barat tanggal 9 s.d. 11 Mei 2008 di Simpang Empat Pasaman Barat (Telah disampaikan pada hari Sabtu 10 Mei 2008)
Hp. 085668938650, Email: muismahmud@gmail.com

No. Account:
Abdul Muis
Bank Nagari Cabang Ujung Gading
No.Rek. 1500.0210.04695-4
[1] Di dalam Bibel diterangkan tentang istilah Perpuluhan:
Perpuluhan adalah konsep Perjanjian Lama. Perpuluhan adalah peraturan Hukum Taurat di mana setiap orang Israel memberi 10% dari segala yang mereka peroleh untuk Tabernakel/Bait Suci (Imamat 27:30; Bilangan 18:26; Ulangan 14:24; 2 Tawarikh 31:5). Sebagian orang menganggap perpuluhan dalam Perjanjian Lama sebagai pajak untuk mencukupi kebutuhan dari para imam dan orang-orang Lewi dalam sistim korban. Dalam Perjanjian Baru tidak ada perintah atau rekomendasi untuk orang-orang Kristen tunduk kepada sistim perpuluhan yang legalistik. Paulus menyatakan bahwa orang-orang percaya sepatutnya menyisihkan sebagian dari penghasilan mereka untuk mendukung gereja (1 Korintus 16:1-2).
Perjanjian Baru tidak menentukan persentase penghasilan yang harus disisihkan tapi hanya mengatakan, “sesuai dengan apa yang kamu peroleh” (1 Korintus 16:2). Gereja Kristen mengambil angka 10% dari Perjanjian Lama dan menerapkannya pada “rekomendasi minimum” untuk orang Kristen dalam memberi persembahan. Namun demikian orang Kristen tidak perlu merasa wajib untuk selalu memberi perpuluhan. Orang Kristen sepatutnya memberi sesuai dengan apa yang mereka mampu, “sesuai dengan apa yang kamu peroleh.” Kadang-kadang ini berarti memberi lebih dari perpuluhan, kadang-kadang kurang dari perpuluhan. Setiap orang Kristen perlu berdoa dengan sungguh-sungguh dan meminta hikmat dari Tuhan mengenai memberi atau tidak memberi perpuluhan dan/atau berapa banyak yang dia berikan (Yakobus 1:5). Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita (2 Korintus 9:7).
( http://www.gotquestions.org/Indonesia/Kristen-perpuluhan.html )
[2] DR. Yusuf al Qaradlawy\فقه الزكاة\ PART1\CHAP1-B.HTM
جاءت السنة ببيان الأموال التي تجب فيها الزكاة، ونصاب كل منها، ومقدار الواجب فيها، وفصلت القول في الأشخاص والجهات التي تصرف لها وفيها الزكاة، وهي المذكورة في آية: (إنما الصدقات...) (التوبة:60)، وسنفصل القول في ذلك كله فيما بعد - ولكن الذي يهمنا معرفته هنا هو تاريخ فرض هذه الزكاة ذات النصب والمقادير المحددة.
فقد عرفنا أن الزكاة المطلقة غير المقدرة فرضت في مكة، كما اخترناه ورجحه كثير من الأمة، وكما دلت عليه آيات القرآن وأحاديث الرسول. وعرفنا أن القرآن المدني أكد وجوب الزكاة، وفصل بعض أحكامها، وأن السنة هي التي تولت تفصيل ما أجمله القرآن، وبينت النصب والمقادير والحدود، فمتى وقع هذا التحديد في العهد المدني؟ أو بعبارة أخرى: في أي سنة بعد الهجرة وقع فرض الزكاة المحدودة؟.
المشهور المتعالم: أنها فرضت في السنة الثانية من الهجرة، قيل: قبل فرض رمضان، وإليه أشار النووى في باب "السير" في الروضة.

ويعكر عليه ما ثبت عند أحمد وابن خزيمة والنسائي وابن ماجة والحاكم من حديث قيس بن سعد بن عبادة قال: "أمرنا رسول الله - صلى الله عليه وسلم - بصدقة الفطر قبل أن تنزل الزكاة ثم نزلت فريضة الزكاة" (الحديث).
قال الحافظ: إسناده صحيح. وهو دال على أن فرض صدقة الفطر كان قبل فرض الزكاة، فيقتضي وقوعها بعد فرض رمضان. وقد اتفقوا على أن صيام رمضان إنما فرص بعد الهجرة، لأن الآية الدالة على فرضيته مدنية بلا خلاف (فتح الباري: 3/171).
وجزم ابن الأثير في تاريخه: أن فرض الزكاة كان في السنة التاسعة من الهجرة، وقوى بعضهم ما ذهب إليه بما وقع في قصة ثعلبة بن حاطب المطولة ففيها: "لما نزلت آية الصدقة بعث النبي - صلى الله عليه وسلم - عاملاً يأخذها منه. فقال: ما هذه إلا جزية، وأخت الجزية".. والجزية إنما وجبت في التاسعة، فتكون الزكاة في التاسعة.
قال في الفتح: ولكن الحديث ضعيف لا يحتج به (بل قال في تخريج الكشاف ص77: ضعيف جدًا).
واستدل الحافظ على أن فرض الزكاة كان قبل التاسعة بحديث أنس في قصة ضمام بن ثعلبة (في الصحيحين) الذي جاء يسأل النبي - صلى الله عليه وسلم - وينشده الله أن بصدقة الجواب في عدة أمور كان منها: أنشدك الله، الله أمرك أن تأخذ هذه الصدقة من أغنيائنا فتقسمها على فقرائنا؟ قال "نعم". وكان قدوم ضمام سنة خمس. وإنما الذي وقع في التاسعة بعث العمال لأخذ الصدقات، وذلك يستدعى تقدم فرضية الزكاة قبل ذلك (فتح الباري - المرجع السابق). على أن آية: (إنما الصدقات).التي رد الله بها على الطامعين الذين إذا أعطوا منها رضوا، وإن لم يعطوا منها إذا هم يسخطون، وهم المنافقون الذين طعنوا في قسمة النبي - صلى الله عليه وسلم - للصدقات - هذه الآية تدل على أن الزكاة كانت قائمة ومنفذة فعلاً، وأن الرسول - صلى الله عليه وسلم - كان يتولى أمرها وتوزيعها، وذلك قبل نزول هذه الآية بلا ريب.
[3] Tentang keberadaan amil zakat, secara gamblang diungkapkan pada surat At Taubah ayat 60:
* $yJ¯RÎ) àM»s%y‰¢Á9$# Ïä!#ts)àÿù=Ï9 ÈûüÅ3»¡yJø9$#ur tû,Î#ÏJ»yèø9$#ur $pköŽn=tæ Ïpxÿ©9xsßJø9$#ur öNåkæ5qè=è% †Îûur É>$s%Ìh9$# tûüÏB̍»tóø9$#ur †Îûur È@‹Î6y™ «!$# Èûøó$#ur È@‹Î6¡¡9$# ( ZpŸÒƒÌsù šÆÏiB «!$# 3 ª!$#ur íOŠÎ=tæ ÒO‹Å6ym ÇÏÉÈ
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Di dalam hadits Nabi, misalnya kita temukan:
عن ابن عباس رضي الله عنهما ثم أن النبي صلى الله عليه وسلم بَعَثَ مُعَاذًا رضي الله عنه إِلَى اليَمَنِ فَقَالَ ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنِّي رَسُولَ اللهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ
Bersumber dari Ibnu ‘Abbas r.a. bahwa sesungguhnya Nabi SAW telah mengutus Mu’az r.a. ke Yaman, lantas beliau bersabda: “Serulah mereka kepada syahadat bahwa tidak ada yang berhak diibadati dengan sebenarnya melainkan Allah, dan bahwa sesungguhnya aku adalah Rasul Allah. Jika mereka menta’atimu terhadap itu, maka ajarkanlah kepada mereka, bahwa Allah telah memfardhukan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam. Jika mereka menta’atimu terhadap itu, maka ajarkanlah kepada mereka, bahwa Allah telah memfardhukan sedekah (zakat) dalam harta kekayaan mereka yang dikutip dari orang-orang kaya mereka dan dikembalikan kepada orang-orang fakir miskin mereka.” (Shaheh Al-Bukhari juz II, halaman 505, NH. 1331, Muslim meriwayatkan dengan versi yang lain, Shaheh Muslim Juz I, halaman 50, NH. 19)

[4] Qaradlawy/فقه الزكاة / PART2/ CHAP4/ CHAP4P3.HTM#واجب الحكومة إرسال الجباة
ومن هنا نص الفقهاء: أنه يجب على الإمام أن يبعث السعاة لأخذ الزكاة، لأن النبي -صلى الله عليه وسلم- والخلفاء من بعده كانوا يبعثون السعاة، وهذا أمر مشهور مستفيض. ومن ذلك حديث أبى هريرة في الصحيحين أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- (بعث عمر بن الخطاب -رضى الله عنه- على الصدقة). وفيهما عن سهل بن سعد: أنه -عليه الصلاة والسلام- "استعمل ابن اللتبية على الصدقات" والأحاديث في هذا الباب كثيرة. ولأن في الناس من يملك المال ولا يعرف ما يجب عليه، ومنهم من يعرف ويبخل فوجب أن يبعث من يأخذ (المجموع للنووي: 6/167).
ويبعث الإمام أو نائبه عمال الزكاة للزروع والثمار -وهى ما لا يتعلق بالحول- وقت وجوبها، وهو إدراكها، بحيث يصلهم وقت الجذاذ والحصاد. وأما المواشي وغيرها من الأموال التي يعتبر فيها الحول، فينبغي للساعي أن يعين شهرًا يأتيهم فيه، ويستحب أن يكون ذلك الشهر هو المحرم، صيفًا كان أو شتاء، لأنه أول السنة الشرعية (المصدر نفسه ص 170).
[5] Muslim/II/ 676/ HN. 983
صحيح مسلم ج: 2 ص: 676
باب في تقديم الزكاة ومنعها 983 وحدثني زهير بن حرب حدثنا علي بن حفص حدثنا ورقاء عن أبي الزناد عن الأعرج عن أبي هريرة قال ثم بعث رسول الله صلى الله عليه وسلم عمر على الصدقة فقيل منع بن جميل وخالد بن الوليد والعباس عم رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم ما ينقم بن جميل إلا أنه كان فقيرا فأغناه الله وأما خالد فإنكم تظلمون خالدا قد احتبس أدراعه وأعتاده في سبيل الله وأما العباس فهي علي ومثلها معها ثم قال يا عمر أما شعرت أن عم الرجل صنو أبيه
[6] Al Bukhari/ II/ 546/ NH 1429
صحيح البخاري ج: 2 ص: 546
66 باب قول الله تعالى والعاملين عليها ومحاسبة المصدقين مع الإمام 1429 حدثنا يوسف بن موسى حدثنا أبو أسامة أخبرنا هشام بن عروة عن أبيه عن أبي حميد الساعدي رضي الله عنه قال ثم استعمل رسول الله صلى الله عليه وسلم رجلا من الأسد على صدقات بني سليم يدعى بن اللتبية فلما جاء حاسبه
[7] Sayyid Sabiq/ Fiqh al Sunnah/ I/ 327.
Abdurrahman Al Jazairi, “Al Fiqh Ala al Madzahib al Arba’ah”, Daar al Fikr, Beirut (tt), Juz I halaman 987:
الفقه على المذاهب الأربعة [ جزء 1 - صفحة 987 ]
و " العامل على الزكاة " هو من له دخل في جميع الزكاة : كالساعي والحافظ والكاتب وإنما يأخذ العامل منها إذا فرقها الإمام ولم يكن له أجرة مقدرة من قبله فيعطى بقدر أجر مثله
[8] Ibrahim bin Ali bin Yusuf As Syairazy Abu Ishaq “Al Muhazzab” Daar al Fikr, Beirut juz I halaman 168:
المهذب ج: 1 ص: 168
فصل في بعث السعاة للصدقة ويجب على الإمام أن يبعث السعاة لاخذ الصدقة لان النبي صلى الله عليه وسلم والخلفاء من بعده كانوا يبعثون السعاة ولان في الناس من يملك المال ولا يعرف ما يجب عليه وفيهم من يبخل فوجب أن يبعث من يأخذ
An Nawawi, Abu Zakarya Muhyiddin (w. 676), “Al Majmu’ Syarhil Muhazzab”, 1417-1996, Beirut: Daarul Fikr. Juz VI, halaman 150.
المجموع ج: 6 ص: 150
قال المصنف رحمه الله تعالى ويجب على الإمام أن يبعث السعاة لأخذ الصدقة، لأن النبي صلى الله عليه وسلم والخلفاء من بعده «كانوا يبعثون السعاة» ولأن في الناس من يملك المال ولا يعرف ما يجب عليه، ومنهم من يبخل، فوجب أن يبعث من يأخذ
[9] Abdullah bin Ahmad bin Qudamah Al Muqaadisi Abu Muhammad (541 H- 620H), “Al Mughny” 1405 cet. I, Daar Al Fikr, Beirut, juz II, halaman 273
المغني ج: 2 ص: 273
مسألة قال إلا أن يكونوا من العاملين عليها فيعطون بحق ما عملوا وجملته أنه يجوز للعامل أن يأخذ عمالته من الزكاة سواء كان حرا أو عبدا وظاهر كلام الخرقي أنه يجوز أن يكون كافرا وهذه إحدى الروايتين عن أحمد لأن الله تعالى قال والعاملين عليها التوبة 60 وهذا لفظ عام يدخل فيه كل عامل على أي صفة كان ولأن ما يأخذ على العمالة أجرة عمله فلم يمنع من أخذه كسائر الإجارات والرواية الأخرى لا يجوز أن يكون العامل كافرا لأن من شرط العامل أن يكون أمينا والكفر ينافي الأمانة ويجوز أن يكون غنيا وذا قرابة لرب المال وقوله بحق ما عملوا يعني يعطيهم بقدر أجرتهم والإمام مخير إذا بعث املا إن شاء استأجره إجارة صحيحة ويدفع إليه ما سمي له وإن شاء بعثه بغير إجارة ويدفع إليه أجر مثله وهذا كان المعروف على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فإنه لم يبلغنا أنه قاطع أحدا من العمال على أجر وقد روى أبو داود بإسناده عن ابن الساعدي قال استعملني عمر على الصدقة فلما فرغت منها وأديتها إليه أمر لي بعمالة فقلت إنما عملت لله وأجري على الله قال خذ ما أعطيت فإني قد عملت على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فعملني فقلت مثل قولك فقال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أعطيت شيئا أن تسأله فكل وتصدق فصل ويعطى منها أجر الحاسب والكاتب والحاشد والخازن والحافظ والراعي ونحوهم فكلهم معدودون من العاملين عليها ويدفع إليهم من حصة العاملين عليها فأما أجر الوزان والكيال ليقبض الساعي الزكاة فعلى رب المال لأنه من مؤونة دفع الزكاة
[10] Qaradlawy/ فقه الزكاة/PART2/ CHAP4/ CHAP4P3.HTM#شروط العاملين في الزكاة
العلم بأحكام الزكاة:
واشترطوا أيضًا أن يكون عالمًا بأحكام الزكاة، إن كان ممن يفوض إليه عموم الأمر؛ لأنه إذا كان جاهلاً بذلك، لم تكن له كفاية لعمله وكان خطؤه أكثر من صوابه (انظر المجموع للنووي: 6/167 وشرح غاية المنتهى: 2/137).لأنه يحتاج إلى معرفة ما يؤخذ وما لا يؤخذ، ويحتاج إلى الاجتهاد الجزئي فيما يعرض من مسائل الزكاة وأحكامها.وأما إذا كان عمله جزئيًا محددًا بدائرة معينة مهمته أن ينفذها فلا يشترط علمه إلا بما كلف به.
[11] Ibid.
الكفاية للعمل:
أن يكون كافيًا لعمله، أهلاً للقيام به، قادرًا على أعبائه. فإن الأمانة وحدها لا تكفى ما لم يصحبها القوة على العمل والكفاية فيه: (إن خير من استأجرت القوى الأمين) (القصص: 26). ولذا قال يوسف -عليه السلام- للملك: (اجعلني على خزائن الأرض، إني حفيظ عليم) (يوسف: 55). فالحفظ يعنى الأمانة، والعلم يعنى الكفاية والخبرة. وهما أساس كل عمل ناجح.
[12] نيل الأوطار ج: 4 ص: 231
وعن المطلب بن ربيعة بن الحرث بن عبد المطلب أنه والفضل بن عباس انطلقا إلى رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم قال ثم تكلم أحدنا فقال يا رسول الله جئناك لتؤمرنا على هذه الصدقات فنصيب ما يصيب الناس من المنفعة ونؤدي إليك ما يؤدي الناس فقال إن الصدقة لا تنبغي لمحمد ولا لآل محمد إنما هي أوساخ الناس مختصر حصول ومسلم وفي لفظ لهما لا تحل لمحمد ولا لآل محمد قوله أوساخ الناس هذا بيان لعلة التحريم والإرشاد إلى تنزه الآل عن أكل الأوساخ وإنما سميت أوساخا لأنها تطهرة لأموال الناس ونفوسهم كما قال تعالى تطهرهم وتزكيهم بها التوبة 301 فذلك من التشبيه وفيه إشارة إلى أن المحرم على الآل إنما هو الصدقة الواجبة التي يحصل بها تطهير المال وأما صدقة التطوع فنقل الخطابي وغيره الإجماع على على النبي صلى الله عليه وآله وسلم وللشافعي قول إنها تحل وتحل للآل على قول الأكثر وللشافعي قول بالتحريم وسيأتي الكلام في تحريم الصدقة الواجبة على بني هاشم وظاهر هذا الحديث أنها لا تحل لهم ولو كان أخذهم لها من باب العمالة وإليه ذهب الجمهور وقال أبو حنيفة والناصر العمالة معاوضة بمنفعة والمنافع مال فهي كما لو اشتراها بماله وهذا قياس فاسد الاعتبار لمصادمته للنص
المنتقى لابن الجارود ج: 1 ص: 280
1113 حدثنا محمد بن يحيى قال ثنا يعقوب بن إبراهيم بن سعد قال ثنا أبي عن صالح عن بن شهاب عن عبد الله بن عبد الله بن الحارث بن نوفل بن الحارث بن عبد المطلب أنه أخبره عبد المطلب بن ربيعة بن الحارث بن عبد المطلب أخبره أنه اجتمع ربيعة بن الحارث والعباس بن عبد المطلب فقالا ثم والله لو بعثنا هذين الغلامين لي وللفضل بن العباس إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأمرهما على هذه الصدقات فذكر بعض الحديث قال فكلمناه فقلنا يا رسول الله جئناك لتؤمرنا على هذه الصدقات فقال ألاإن الصدقة لا تنبغي لمحمد ولا لآل محمد إنما هي أوساخ الناس ادع لي محمية بن الجزء وكان على العشور وأبا سفيان بن الحارث فأتياه فقال لمحمية أنكح هذا الغلام ابنتك للفضل فأنكحه وقال لأبي سفيان أنكح هذا الغلام ابنتك فأنكحه ثم قال لمحمية أصدق عنهما من الخمس
صحيح ابن حبان ج: 10 ص: 385
أنه اجتمع ربيعة بن الحارث وعباس بن عبد المطلب فقالا ثم والله لو بعثنا هذين الغلامين قال لي وللفضل بن العباس إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم فأمرهما على هذه الصدقات فأديا ما يؤدي الناس وأصابا ما يصيب الناس من المنفعة قال فبينما هما في ذلك جاء علي بن أبي طالب فقال ماذا تريدان فأخبراه بالذي أرادا فقال لا تفعلا فوالله ما هو بفاعل فقالا لم تصنع هذا فما هذا منك إلا نفاسة علينا فوالله لقد صحبت رسول الله صلى الله عليه وسلم ونلت صهره فما نفسنا ذلك عليك فقال أنا أبو حسن أرسلوهما ثم اضطجع فلما صلى رسول الله صلى الله عليه وسلم الظهر سبقناه إلى الحجرة فقمنا عندها حتى مر بنا صلى الله عليه وسلم فأخذ بآذاننا وقال اخرجا ما تصرران ودخل فدخلنا معه وهو يومئذ في بيت زينب بنت جحش قال فكلمناه فقلنا يا رسول الله جئناك لتؤمرنا على هذه الصدقات فنصيب ما يصيب الناس من المنفعة ونؤدي إليك ما يؤدي الناس قال فسكت رسول الله صلى الله عليه وسلم ورفع رأسه إلى سقف البيت حتى اردنا أن نكلمه قال فأشارت إلينا زينب من وراء حجابها كأنها تنهانا عن كلامه ثم اقبل فقال ألا إن الصدقة لا تنبغي لمحمد ولا لآل محمد إنما هي اوساخ الناس ادع لي محمية بن جزء وكان على العشور وأبا سفيان بن الحرث قال فأتيا فقال لمحمية أنكح هذا الغلام ابنتك للفضل فأنكحه وقال لأبي سفيان أنكح هذا الغلام ابنتك قال فأنكحني ثم قال لمحمية اصدق عنهما من الخمس
[13] Shaheh Al Bukhari/ IV/ 1610.
صحيح البخاري ج: 4 ص: 1610
4163 حدثنا عثمان بن الهيثم حدثنا عوف عن الحسن عن أبي بكرة قال لقد نفعني الله بكلمة سمعتها من رسول الله صلى الله عليه وسلم أيام الجمل بعد ما كدت أن ألحق بأصحاب الجمل فأقاتل معهم قال لما بلغ رسول الله صلى الله عليه وسلم ثم أن أهل فارس قد ملكوا عليهم بنت كسرى قال لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة
[14] Qardhawi, op.cit
واشترط بعضهم أن يكون العامل ذكرًا، ولم يجوزوا اشتغال المرأة بالعمالة، لأنها ولاية على الصدقات، ولا دليل على ذلك إلا أن يحتجوا بقوله -صلى الله عليه وسلم-: (لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة) (رواه البخاري في كتاب "الفتن والمغازي" من صحيحه من حديث الحسن البصري عن أبى بكرة).
ولكن هذا إنما يكون في الولاية العامة التي تكون فيها المرأة صاحبة الأمر والنهى. أما الوظائف -ومنها العمالة على الزكاة- فلا تدخل في دائرة هذا الحديث الشريف.
ومنهم من استدل بأنه لم ينقل أن امرأة وليت عمالة زكاة البتة، وتركهم ذلك قديمًا وحديثًا يدل على عدم جوازه.وهذا ليس بدليل، فقد كانت ظروف المرأة الاقتصادية والاجتماعية في تلك العهود لا تؤهلها لمثل هذا العمل. وترك الناس عملاً ما لا يدل على حرمته.
[15] Ibid
وبعضهم قال: إن ظاهر قوله تعالى: (والعاملين عليها) (التوبة: 60). لا يشملها، لأن "العاملين" جمع للذكور (انظر: شرح غاية المنتهى: 2/137). ولو صح ذلك لامتنع إدخال المرأة في الفقراء والغارمين وابن السبيل؛ لأنها جميعًا للذكور. وهذا خلاف للإجماع، لأن المرأة تبع للرجل في ذلك كله، وإن كان الخطاب أو الصيغة للمذكر. والحق أنه ليس في المسألة دليل خاص يمنع المرأة من الاشتغال بالعمالة على الزكاة. ولكن القواعد العامة التي توجب على المرأة الاحتشام والبعد عن مزاحمة الرجال والاختلاط بهم لغير حاجة، يجعل الرجل أولى بهذا العمل من المرأة. إلا في نطاق محدود، كأن تستخدم المرأة لإيصال الزكاة إلى الأرامل والعاجزات من النساء ونحو ذلك، مما تكون المرأة فيه أقدر وأنفع من الرجل، أو على الأقل مثله في الكفاية له، وهو أمر يقدر بقدره، ولا يضيق به الشرع الرحيب.
[16] Ibid
واشترط بعضهم أن يكون حرًا لا عبدًا، ورد ذلك غيرهم بما رواه أحمد والبخاري أن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- قال: (… واسمعوا وأطيعوا وإن استعمل عليكم عبد حبشي كأن رأسه زبيبة). ولأنه يحصل منه المقصود فأشبه الحر (المصدر السابق ص 138).
[17] H. Saifuddin Zuhri/ Sejarah Kebangkitan Islam Dan Perkembangannya di Indonesia/ 175-176
[18] Fiqh al Sunnah, Op.cit/ 276
[19] Al Bukhari/ I/ 33/ HN. 59.
صحيح البخاري ج: 1 ص: 33
59 حدثنا محمد بن سنان قال حدثنا فليح ح وحدثني إبراهيم بن المنذر قال حدثنا محمد بن فليح قال حدثني أبي قال حدثني هلال بن علي عن عطاء بن يسار عن أبي هريرة قال ثم بينما النبي صلى الله عليه وسلم في مجلس يحدث القوم جاءه أعرابي فقال متى الساعة فمضى رسول الله صلى الله عليه وسلم يحدث فقال بعض القوم سمع ما قال فكره ما قال وقال بعضهم بل لم يسمع حتى إذا قضى حديثه قال السائل عن الساعة قال ها أنا يا رسول الله قال فإذا ضيعت الأمانة فانتظر الساعة قال كيف إضاعتها قال إذا وسد الأمر أهله فانتظر الساعة

Kamis, Agustus 28, 2008

silaturrahim

SILATURRAHIM DAN PENYAKIT KEKUASAAN


Oleh: Abdul Muis Mahmud*)

ada dua penyakit kekuasaan seperti virus yang akan menggerogoti kehidupan kita,
menghancurkan sistem syaraf, otak dan urat nadi kemanusiaan kita. Pertama: Bila berkuasa cenderung berbuat kerusakan. Kedua: Bila berkuasa senang memutuskan hubungan rahim….

Silaturrahim

Menurut suatu riwayat yang bersumber dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW bersabda, yang bermaksud:

“Sesungguhnya Allah SWT menciptakan makhluk, setelah selesai penciptaannya, maka rahim berdiri dan berkata: Inikah tempat berdiri orang yang berlindung kepadaMu dari memutuskan (rahim)?
Allah berfirman: “Benar! Apakah engkau senang Aku berhubungan dengan orang yang menghubungkanmu dan Aku putuskan (hubungan dengan) orang yang memutuskanmu?”
Rahim berkata: “Senang, wahai Tuhanku!”
Kemudian, Rasulullah SAW bersabda: Bacalah olehmu [Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Terjemahan Qs. Muhammad: 22] (Hadits ini diriwayatkan oleh Al Bukhari Juz V, halaman 2232, No. 5641, Muslim, Juz IV, halaman 1980, No. 1981)

Hadits di atas dijadikan oleh para ulama sebagai dasar hukum; wajib memelihara silaturrahim dan haram memutuskannya.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan silaturrahim itu?

Silaturrahim adalah kata benda majemuk (bahasa Arab) yang terdiri dari gabungan dua suku kata (mudhaf dan mudhafu ilaihi) “silat(u)” dan “ar rahim(i).”

Silat(u). Kata ini berakar pada huruf “waw, shad, lam”, yang mengandung makna “menghubungan, menyambungkan”, dan lain-lain sesuai dengan konteks verbal yang dimaksud oleh si pembicara (lihat, Qamus al Muhith, Juz I halaman 1380). Bila dihubungkaitkan dengan kata ‘ar rahim”, maka makna yang relevan adalah “menghubungkan, menjalinkan atau menyambungkan”.

Rahim. Kata ini berakar dengan huruf ra, ha, mim, dengan makna pokok “rahmat [kasih sayang]“ar riqqah [lemah lembut]” dan “at ta’atthuf [rasa simpati]”. (Ar Razi “Mukhtar al Shihah” Juz I halaman 100 dan “Lisan al ‘Arab” juz XII, hal. 230).

Bentuk yang ditemukan dalam Al Quran, kata “rahim”, jamaknya “arham” adalah berarti “qarabah [kekeluargaan/ kekerabatan] dan “asbaab al qarabah wa ashluha, ar rahimu allati hiya manbat al walad [kandungan/ rahim ibu]”.

Ditinjau dari makna pokok, maka “rahim” tidak terpisah dari “rahmat”.

Menurut Ibnu Manzur: Orang Arab mempergunakan kata “rahmat manusia” bermaksud “kelembutan hati dan kasih sayangnya [riqqatul qalb wa ‘itfuhu)”. Sedangkan “rahmat Allah” bermaksud “kasih sayangNya, kebajikanNya, dan rezekiNya [‘athfuhu wa ihsanuh, wa rizquhu]”. (Lisan al ‘Arab, ibid).

Dari pemahaman bahasa di atas, maka dapat diketahui bahwa silaturrahim sebagai hubungan kekeluargaan yang terjalin dengan kasih sayang, kelembutan hati dan rasa simpati.

Ditinjau dari konsep sosiologis, sesungguhnya seluruh manusia adalah berasal dari keluarga yang satu (Adam dan Hawa). Maka wacana silaturrahim dalam konsep universal bermakna; jalinan kemanusiaan yang diliputi kasih sayang, kelembutan hati dan rasa simpati.

Dua penyakit kekuasaan

Selanjutnya, dalam surat Muhammad ayat 22, seperti yang disinyalir dalam hadits di atas Allah SWT berfirman, terjemahannya:

Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan rahim (kekeluargaan)?

Jadi menurut ayat ini; ada dua penyakit kekuasaan seperti virus yang akan menggerogoti kehidupan kita, menghancurkan sistem syaraf, otak dan urat nadi kemanusiaan kita. Pertama: Bila berkuasa cenderung berbuat kerusakan. Kedua: Bila berkuasa senang memutuskan hubungan rahim….
Jika kita tidak melakukan usaha preventif dari dijangkiti penyakit kekuasaan ini, dengan mempertebal iman dan taqwa… maka kita akan menghadapi petaka yang lebih besar, seperti ditegaskan Allah SWT pada lanjutan ayat 22 surat Muhammad ini, yang terjemahannya:

Mereka itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.

“La’nat”, seperti diungkapkan oleh Ar Razi adalah: “Terusir, terpencil/ terjauh dari rahmat Allah [at thardu wa al ib’adu min al khairi]” (Mukhtar al Shihah, juz I hal 250).

Laknat dalam konteks kehidupan sosial bisa berwujud situasi dan kondisi yang menyusahkan, menggelisahkan dan menyengsarakan, yang sulit dicari jalan ke luarnya.

Laknat dalam konteks politik pada asfek tertentu adalah kehancuran suatu bangsa, dengan hilangnya jati diri bangsa itu lalu menghadapi kesengsaraan demi kesengsaraan. Laknat seperti inilah yang telah menimpa Bani Israil dahulu kala, seperti firman Allah SWT, yang bermaksud:

“Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam, yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas… Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (Terjemahan Qs. Al Maidah: 78-79)

Sebagai muslim yang beriman kepada Kitabullah, maka kita dapat memprediksi bahaya yang bakal menimpa kita semua, jika penguasa (legislatif dan yudikatif) dijangkiti dua sikap mental tadi; (1) senantiasa melakukan kerusakan, melanggar prinsip agama; dan meremehkan norma-norma hukum, moral, dan lain sebagainya, lalu (2) saling memutuskan tali rahim (silaturrahim), dengan cara menyebarkan berita bohong, propokasi, intrik-intrik politik, dan menghalalkan segala cara guna mendiskreditkan orang lain, dan sebagainya, dan sebagainya… mereka yang berkarakter sedemikian rupa adalah para pengundang laknat dari Allah SWT. Setelah itu, mereka akan dijangkiti penyakit bebal jiwa, bermuka tembok dan pekak, tuli: Mereka Itulah orang-orang yang dila'nati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka… Mereka adalah orang-orang yang gila jabatan, mabuk kekuasaan, dan ingin menjadi penguasa seribu tahun lagi. Sementara tangisan rakyat, rintihan jiwa orang-orang tertindas, keluhan rakyat kelaparan, tidak didengar sama sekali…

Di sisi lain, jika kita melihat realitas bangsa kita pada hari ini, dimana fenomena budaya merusak telah menjalar menerkam semua komponent masyarakat kita, mulai dari akar rumput sampai ke tingkat elit kekuasaan… dan budaya silaturrahim hampir-hampir menguap dilanda badai peradaban materialisme…, maka saya pikir; sudah sewajarnya Tuhan menggiring kita ke dalam lingkaran krisis multidimensi, agar kita sadar dan segera berbenah diri.

Mungkin terlampau ektrim terdengar di telinga kita, bila krisis multidimensi diasumsikan sebagai terjemahan lain dari kosa kata “la’nat”…

Melihat realitas yang berkembang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang, yang oleh sebagian ahli dinilai telah sampai mendekati tingkat kumulatif terendah, maka tidaklah salah kita usulkan kepada pemerintah, agar memprogramkan perbaikan bangsa dan negara ke depan; dengan memprioritaskan agenda perbaikan sikap mental, terutama menghilangkan kebiasaan merusak dari tingkat elit kekuasan sampai ke akar rumput…

Konsep perbaikan yang kita maksud adalah dengan mengamalkan ajaran agama secara murni dan konsekwen… Barangkali sudah cukup bagi kita sebagai pelajaran, dimana pada masa orde baru dahulu, sekitar tahun delapan puluhan, pemerintah telah mencoba berusaha memperbaiki moralitas bangsa, dengan menomor sekiankan ajaran agama. Agama hanya dipakai sebagai alat pembenaran falsafah Pancasila, yang direalisasikan melalui penataran P4, maka untuk mensukseskan program tersebut telah terkuras biaya negara yang tidak sedikit, namun tidak membawa manfaat yang signifikan bagi negara ini. Mengapa hal ini terjadi? Karena falsafah bertahta di otak manusia, sedangkan agama bertahta di hati manusia. Falsafah hanya mungkin dicerna oleh kalangan tertentu, sedangkan agama menyentuh kalbu seluruh manusia.

Di samping itu, kembali kepada konsep rabbani melalui Al Quran dan hadits-hadits Nabi, maka jelas terbaca bahwa orang-orang yang senantiasa berbuat kebajikan, beriman dan bertaqwa (Qs. Al A’raf: 96-98) yang selalu memelihara silaturrahim, akan dilapangkan Allah SWT rezekinya.(Al Bukhari No.5986, Muslim No. 2557), dan akan dilepaskan dari berbagai kesulitan yang dihadapinya…(Qs. Ibrahim: 7)

Jadi, di antara kebutuhan mendesak yang kita perlukan pada hari ini dalam menyelesaikan krisis multi dimensi yang menjerat bangsa kita adalah menghilangkan kebiasaan merusak dalam arti seluas-luasnya dan membudayakan silaturrahim.

*). Tulisan ini dikembangkan luaskan dari ceramah pengajian kaum ibu di MIS Masjid Raya Ujung Gading Jum’at 23 November 2007

Email: muismahmud@gmail.com
No. Account:
Abdul Muis
Bank Nagari cabang Ujung Gading
No.Rek. 1500.0210.04695-4

Rabu, Agustus 27, 2008

Petani Antara Sukses Dan Kufur

PETANI
Antara sukses dan kufur


Oleh: Abdul Muis Mahmud *)


Bila kita memperhatikan kosa kata yang berarti “petani” di dalam Al Quran, ternyata secara verbal ada disebut dengan “kuffar” jamak “kaafir”. Ungkapan ini kita jumpai dalam surat Al Hadid ayat 20 yang terjemahannya:

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan kuffar (para petani); kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

Jadi kata “kuffar” di sini menurut ahli tafsir semakna dengan “zurra’” yaitu; petani. Menurut Al-Qurthubi, petani di sebut dengan kuffar, karena mereka menutupi bibit tanaman (Tafsir Al Qurthubi Juz XVII halaman 255)

Kosa kata “kuffar” secara verbal sebenarnya mengandung banyak pengertian. Yang paling sering disebut dalam Al Quran dengan maksud “ingkar, menutupi kebenaran, durhaka dan mengingkari nikmat”.

Di samping itu dalam bahasa Arab kosa kata “petani” juga disebut “fallah” mempunyai akar kata yang sama dengan “falah” yang berarti “sukses, kemajuan” (lihat, Elias. A. Elias, “Qaamus Al Ashry/ Elias Modern Dictionary, Arabic – English”, 1979 H, edisi XII, Kairo: Syirkah Daarul Elias al Ashriyyah, halaman 512.)

Antara sukses dan kufur

Dengan memahami ungkapan bahasa di atas maka terbayang dalam pemikiran kita realitas kehidupan petani berada antara kekufuran dan kesuksesan. Hal ini tergantung kepada motivasi dan sikap mental petani itu sendiri dalam menjalankan usahanya. Petani yang beriman, yang bertawakkal dan menjalankan usaha pertanian semaksimal mungkin, sesuai dengan tuntunan ilmu pertanian, tentulah akan mencapai kesuksesan. Sebaliknya, petani yang tidak berpegang teguh kepada ketentuan iman dan prinsip-prinsip agama, melakukan usaha tani secara serampangan tentulah akan terjerumus ke dalam kekufuran dan jauh dari kesuksesan.

Adapun yang dimaksud dengan sukses bagi petani dalam pembahasan ini adalah; terlepasnya para petani dengan usaha taninya dari kondisi perekonomian yang kurang beruntung ke taraf yang lebih baik, sehingga mampu untuk memenuhi kebutuhan primer keluarga semaksimal mungkin, seperti kemampuan menyekolahkan anak ke tingkat pendidikan tinggi dan lain-lain. Saya sengaja membatasi definisi ini sesederhana mungkin, agar dapat dicerna oleh para petani yang mayoritasnya - di Indonesia ini - berada pada sudut marginal.

Di sini saya tidak akan menguraikan kiat sukses yang harus dilakukan petani dari jurusan ilmu dan management pertanian lazimnya, karena hal ini bukanlah bidang yang saya geluti. Tetapi saya mencoba mengajak kita berdiskusi singkat tentang sikap mental yang harus dimiliki petani muslim dalam usaha perataniannya, agar “falah” sukses dunia dan akhirat. Karena kesuksesan duniawi yang tidak dibarengi oleh keseksesan dalam memegang teguh prinsip agama, pada hakikatnya bukanlah sukses dalam arti yang sebenarnya. Pada surat Al Qashash ayat 76 sd 82 Allah SWT menyebut Karun yang meraih kekayaan besar yang luar biasa, tetapi Karun bersikap aniaya kepada kaumnya. Kesuksesan materi yang tidak dibarengi oleh kesuksesan rohani, pada akhirnya menenggelamkan.

Sebagai muslim seorang petani mempunyai ciri khas yang sama dengan muslim lainnya. Dan yang membedakan muslim beriman dan bertaqwa dengan yang lain adalah cara pandangnya terhadap dunia ini (world view). Dia memandang dirinya dan alam semesta ini sebagai bahagian integral dari hak milik Allah SWT. Bahwa manusia dalam setiap tindakan dan perbuatannya terikat dengan hukum-hukum Tuhan... Sebagai bahagian dari kesatuan wujud, maka faktor yang mempengaruhi ekosistem alam, yang mempengaruhi dunia manusia, adalah faktor keadilan dan keseimbangan. Jadi… kebahagiaan dan keberhasilan hidup manusia akan terwujud apabila kebutuhan hidup jasmani dipenuhi seimbang dengan kebutuhan hidup rohani. Oleh sebab itu, jika seorang petani muslim ingin meraih kesuksesan dalam hidupnya, maka minimal ia harus memperhatikan hal-hal berikut:

Pertama:
seorang petani hendaklah selalu memulai setiap pekerjaannya karena mengharapkan ridha Allah semata. Karena tidak sedikit ayat-ayat dan hadits Nabi yang menerangkan bahwa orang beriman hendaklah berbuat sesuatu untuk mencari ridha Allah SWT semata.

Kedua:
seorang petani hendaklah menjaga waktu shalatnya. Artinya usaha pertanian tidak boleh mengorbankan shalat lima waktu. Apabila terdengar suara azan “hayya ‘alas shalah” dan “hayya ‘alal falah”, maka hendaklah kita meninggalkan pekerjaan sementara waktu demi memenuhi panggilan kesuksesan itu.

Ketiga:
seorang petani hendaklah bersyukur kepada Allah SWT atas keberhasilan pertanian yang diperolehinya, dengan membayar zakat, berinfak, membantu fakir miskin, anak-anak yatim dan amal kebajikan lainnya.

Keberhasilan pertanian yang tidak dibarengi dengan jiwa syukur pada akhirnya akan mendatangkan malapetaka. Allah SWT menerangkan dalam Al Quran tentang masyarakat Saba’ dahulukala yang sukses dalam pertanian; berkat teknologi pengairan yang mereka miliki (bendungan Ma’rib).

Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka Yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun". Tetapi mereka berpaling, Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.
(Terjemahan, Qs. Saba’: 15-17)

Jadi, kesuksesan dunia pertanian sebagai tonggak perekonomian masyarakat Saba’ dahulu kala tidak dibarengi oleh jiwa bersyukur kepada Allah. Maka kepada mereka didatangkan malapetaka, kehancuran bendungan Ma’rib dan sampai sekarang tidak dapat dibangun kembali seperti sedia kala.

Sampai di sini saya ingin mengajak kita semua untuk meneropong dengan mata hati beberapa usaha pertanian produktif yang sebelumnya telah mengangkat perekonomian masyarakat kita. Tetapi belakangan dilanda kehancuran yang tidak dapat, atau belum dapat ditemukan pemecahan masalahnya melalui ilmu dan teknologi pertanian. Misalnya, usaha pertanian jeruk. Pada awal tahun sembilan puluhan hingga awal tahun dua ribu, petani jeruk kita mencapai masa kesuksesannya. Tetapi belakangan usaha tani ini mengalami kehancuran total sehingga pertanian jeruk ditinggalkan masyarakat sama sekali. Padahal, industri pertanian telah memproduksi bermacam-macam jenis insektisida, fungisida, pupuk organik dan non organik, dan lain-lain, yang selama ini telah terbukti mampu memelihara serta meningkatkan kwalitas produksi buah jeruk. Mengapa kehancuran ini terjadi? Barangkali banyak faktor penyebab. Tetapi apabila kita menjadikan surat Saba’ ayat 15 sd 17 di atas sebagai barometer, maka kehancuran ini erat hubungannya dengan sikap mental petani yang tidak pandai bersyukur kepada Allah SWT. Banyak petani yang melanggar perintah Allah SWT, takabur, kikir, tidak berzakat, atau tidak membayar zakat secara benar.

Jadi, jika kita ingin mengangkat dunia pertanian kita ke puncak kesuksesan, di samping memperhatikan faktor sains dan teknologi, pengembangan ilmu dan management pertanian dan sebagainya, maka kita wajib meningkatkan keimanan dan ketaqwaan petani. Karena petani yang beriman dan bertaqwa pasti bersyukur kepada Allah. Barangsiapa yang bersyukur berarti meraih kesuksesan yang sangat besar, seperti firman Allah pada surat Ibrahim ayat 7, yang terjemahannya:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


*). Naskah ini disampaikan pada ceramah rohani; pelatihan Petani Madani sekabupaten Pasaman Barat di Ujung Gading Rabu 21 Nopember 2007

Email: muismahmud@gmail.com
No. Account:
Abdul Muis
Bank Nagari cabang Ujung Gading
No.Rek. 1500.0210.04695-4