Kamis, Oktober 13, 2011

Nasehat Abu Zar


TENTANG BEKAL AKHIRAT

Al Makiy Al Fakihy dalam kitabnya “Akhbar Makkah” Juz V, halaman 105, meriwayatkan:

Abu Zar r.a. pernah bersandar ke Ka’bah lalu berkata: “Saudara-saudara sekalian, mendekatlah kepadaku (dan pandanglah daku) sebagai saudara kandung yang memberi nasehat (kepadamu)!”

Lantas orang banyak mengerumuninya.

Selanjutnya Abu Zar berkata: “Bagaimana pandangan kalian, seandainya salah seorang di antaramu ingin bepergian… Bukanlah dia mengambil bekal yang sepantasnya? Perjalanan dimaksud adalah perjalanan akhirat… maka hendaklah kalian membekali diri dengan bekal yang sepantasnya!”

Lalu seorang lelaki penduduk Kaufah berdiri dan bertanya: “Apakah bekal yang sepantasnya bagi kita”

Abu Zar menanggapi:
  • “Siapkan hujjah (argumentasi) demi menghadapi perkara-perkara yang sangat besar…
  • Berpuasalah di hari yang sangat panas demi menghadapi hari berhimpun (kiamat)…
  • Kerjakanlah shalat dua rakaat pada malam yang sangat gelap, demi menghadapi kegelapan kubur…
  • Kata-kata baik yang engkau ucapkan….
  • Dan kata-kata jelek yang engkau menghentikan diri dari mengucapkannya….
  • Sedekahmu yang engkau berikan kepada orang miskin, mudah-mudahan engkau selamat dari hari yang sangat menyusahkan…
  • Jadikanlah dunia ini dua majlis: Satu majlis dalam mencari yang halal, dan satu majlis lagi dalam mencari akhirat… Kemudian yang ketiganya adalah memudharatkan tidak membawa manfaat.
  • Jadikanlah harta kekayaan itu dua dirham; Satu dirham engkau belanjakan untuk keluargamu, dan satu dirham lagi engkau persiapkan untuk akhiratmu… Kemudian yang ke tiga; memudharatkan, tidak membawa manfa’at…

Selanjutnya Abu Zar berucap: “Aduhai!”

Orang bertanya kepadanya: “Ada apa gerangan?”

Ia menanggapi: “Aku celaka lantaran panjang angan-angan… Dunia ini hanyalah dua sa’at, yakni: Sa’at yang berlalu, dan sa’at yang tertinggal… Adapun yang berlalu, maka telah sirna kelezatannya. Sedangkan yang tertinggal, maka dia telah menipumu, bahkan kurang kesabaranmu terhadapnya… Engkau mengambil yang halal dan yang haramnya… maka engkau adalah engkau… Jika engkau mengambil yang halalnya, maka engkau adalah engkau (beruntung dirimu)… Tetapi, jika engkau mengambil yang haramnya, maka aku tidak tahu bagaimana menerangkan buruknya kondisimu… Allahlah Yang mengatur segala nikmat dan rezekimu…

أن أبا ذر رضي الله عنه أسند ظهره إلى الكعبة ، فقال : يا أيها الناس هلم إلى أخ ناصح شفيق قال : فاكتنفه الناس ، ثم قال : أرأيتم لو أن أحدكم أراد سفرا ، أليس كان يأخذ من الزاد ما يصلحه ؟ السفر سفر الآخرة ، فتزودوا ما يصلحكم ، فقام إليه رجل من أهل الكوفة ، فقال : وما الذي يصلحنا ؟ قال : احجج حجة لعظائم الأمور ، وصم يوما شديدا حره للنشور ، وصل ركعتين في سواد الليل لظلمة القبور ، وكلمة خير تقولها ، وكلمة شر تسكت عنها ، وصدقة منك على مسكين لعلك تنجو من يوم عسير ، اجعل الدنيا مجلسين : مجلسا في طلب الحلال ، ومجلسا في طلب الآخرة ثم الثالث يضر ولا ينفع ، اجعل المال درهمين : درهما تنفقه على عيالك ، ودرهما تقدمه لآخرتك ثم الثالث يضر ولا ينفع ثم قال : أوه قيل له : ما ذاك ؟ قال : قتلني طول الأمل ، إنما الدنيا ساعتان : ساعة ماضية ، وساعة باقية ، فأما الماضية ، فذهبت لذتها ، وأما الباقية فهي تخدعك حتى يقل صبرك فيها ، تأخذ حلالها وحرامها ، فإن أخذتها بحلالها ، فأنت أنت ، وإن أخذتها بحرامها فما أدري ما أصف من سوء حالك ، والله ولي نعمك ومعروفك

UG-Kamis,10/13/2011 5:27:32 Wib


Selasa, Oktober 11, 2011

YANG KIKIR DAN YANG PEMURAH


Di antara manusia ada yang kikir dan ada pula yang dermawan… Orang yang kikir mengukur laba rugi berdasarkan motif duniawi belaka, sedangkan orang dermawan menilai laba rugi berdasarkan motif ukhrawi yang jauh lebih baik dan kekal…  

Diriwayatkan, bahwa: Seorang lelaki pemilik pohon kurma mempunyai pohon yang mayangnya menjulur ke rumah tetangganya seorang fakir yang banyak anaknya. Bila pemilik kurma itu memetik buah kurma, maka dia memetiknya dari rumah tetangganya, dan jika ada kurma yang jatuh dan dipungut oleh anak-anak yang fakir itu, ia segera turun dan merampasnya dari tangan anak-anak itu, bahkan yang sudah masuk ke mulut anak-anak itupun dipaksa dikeluarkan…

Orang fakir itu mengadukan hal ini kepada Rasulullah SAW dan beliau berjanji akan menyelesaikannya. Kemudian Rasulullah SAW bertemu dengan pemilik kurma itu dan bersabda: “Berikanlah kepadaku pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah si Fulan, dan bagianmu sebagai gantinya pohon kurma di surga”. Pemilik kurma itu menanggapi: “Hanya sekian tawaran tuan?” Aku mempunyai banyak pohon kurma dan pohon kurma yang diminta itu paling baik buahnya”… Pemilik kurma itu pergi.

Pembicaraan dengan Nabi SAW tersebut terdengar oleh seorang Dermawan yang langsung menghadap kepada Rasulullah SW dan bertanya: “Apakah tawaran tuan itu berlaku juga bagiku, jika pohon kurma itu telah menjadi milikku?” Rasulullah SAW menjawab: “Ya!” Maka pergilah orang itu menemui sang pemilik kurma. Pemilik pohon kurma itu berkata: “Apakah anda tahu bahwa Muhammad SAW menjanjikan pohon kurma di surga sebagai ganti pohon kurma yang mayangnya menjulur ke rumah tetanggaku? Dan bahwa aku catat tawarannya, akan tetapi buahnya sangat mengagumkan, padahal aku banyak mempunyai pohon kurma dan tidak ada satupun yang buahnya selebat itu?” Orang Dermawan tadi menanggapi: “Apakah anda mau menjualnya?” Ia menjawab: “Tidak, kecuali apabila ada orang yang sanggup memenuhi keinginanku, tapi… pasti tidak akan ada yang sanggup”. Dermawan itu mengatakan: “Berapa yang anda inginkan?” Ia berkata: “Aku inginkan empat puluh pohon kurma”. Ia terdiam kemudian berkata lagi: “Anda minta yang bukan-bukan, baik aku berikan empat puluh kurma kepadamu, dan aku minta saksi jika anda benar mau menukarnya”. Ia memanggil sahabat-sahabatnya untuk menyaksikan pertukaran itu.

Dermawan tadi menghadap Rasulullah SAW dan berujar: “Wahai Rasulullah! Pohon kurma itu telah menjadi milikmu dan aku akan serahkan kepada tuan”. Maka Rasulullah SAW berangkat kepada pemilik rumah yang yang fakir itu dan bersabda: “Ambillah pohon kurma itu untukmu dan kelurgamu”. Sehubungan dengan kasus inilah turun surat Al Lail (S: 92) dari ayat 1 hingga terakhir. (Lihat, Jalaluddin As Suyuthi/ Ad Darr al Mantsur/ Juz X/ hal 278)

Terjemahan maksud surat Al Lail:
1.  Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),
2.  Dan siang apabila terang benderang,
3.  Dan penciptaan laki-laki dan perempuan,
4.  Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.
5.  Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa,
6.  Dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga),
7.  Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.
8.  Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,
9.  Serta mendustakan pahala terbaik,
10.  Maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.
11.  Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia Telah binasa.
12.  Sesungguhnya kewajiban Kamilah memberi petunjuk,
13.  Dan Sesungguhnya kepunyaan Kamilah akhirat dan dunia.
14.  Maka, Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala.
15.  Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka,
16.  Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).
17.  Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,
18.  Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,
19.  Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,
20.  Tetapi (Dia memberikan itu semata-mata) Karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi.
21.  Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.

UG-Jumat, 24 Desember 2010 pukul 7:56:31

Sabtu, April 30, 2011

MASALAH EKONOMI SELAYANG PANDANG


Pendahuluan
M
asalah ekonomi telah menguras energi ummat manusia sedemikian rupa, sehingga persoalan dunia hari ini seolah-olah hanya berpunca dari masalah ekonomi belaka. Oleh karena itu ekonomi telah menjadi thema sentral yang mendasari kehidupan. Saya pikir tidak ada satu kisi-kisi terpenting dari komponent kemanusiaan yang tidak didominasi oleh ekonomi. Bahkan  faktor-faktor moral keagamaan yang semestinya menjadi wasit dalam interaksi sosial, oleh manusia dipaksakan turut membenarkan jargon ekonomi, maka jadilah dunia hari ini sebagai sebuah pasar raksasa, tempat transaksi hewan-hewan ekonomi yang satu sama lain dihubungkan oleh persaingan, konfrontasi dan dominasi. Bukan sebagai saudara dalam satu naungan sebagai makhluk Tuhan semesta alam.
Apakah persoalah mendasar manusia adalah ekonomi? Jika ekonomi dipandang secara terpisah dari kesatuan kemanusiaan, dan kemanusiaan dipisahkan pula secara radikal dari kesatuan alam, lalu diputuskan hubungannya dengan Allah SWT Pencipta segalanya, maka ini adalah bencana. Dan lebih berbahaya lagi apabila pemecahan persoalan ummat manusia hanya ditinjau dari jurusan ini, kemudian memberikan therapi atas dasar itu pula. Meminjam ungkapan Al-Maududi: tidak ubahnya dengan seorang spesialis penyakit hati, yang memisahkan hati itu dari keseluruhan susunan jasmani tanpa mengindahkan posisi yang diberikan kepada hati dan yang ditempatinya dalam tubuh manusia serta hubungannya dengan peralatan tubuh lainnya. Selanjutnya, si spesialis memeriksa hati itu dalam keadaan terpencil dan kemudian, demikian tenggelamnya spesialis tadi memeriksa hati itu sehingga akhirnya seluruh rangka jasmani pasiennya serta seluruh susunan tubuhnya seakan-akan menjadi suatu hati raksasa semata-mata.
Masalah sesungguhnya
Apabila kita meninjau masalah ekonomi ke inti persoalannya dengan mengenyampingkan komplikasi istilah-istilah dan penjurusan-penjurusan, maka kita jumpai masalah ekonomi ummat manusia tidak lebih dari hal berikut ini. Bertujuan untuk mempertahankan dan memajukan peradaban manusia, bagaimana caranya untuk mengatur penyebaran perekonomian sedemikian rupa sehingga seluruh ummat memperoleh semua kebutuhan hidupnya dan untuk mengusahakan suapaya setiap individu dalam masyarakat mendapat kesempatan yang cukup untuk mengembangkan kepribadiannya dan untuk mencapai tingkat kesempurnaan setingi-tingginya sesuai dengan kesanggupan dan pembawaannya. (Abul A'la Al-Maududi, Masalah Ekonomi Dan Pemecahan Menurut Islam/ The Economic Problem of Man and Its Islamic Solution, hal. 11)
Pada taraf permulaan peradaban masalah ekonomi manusia sama mudahnya dengan kehidupan hewan, karena segala kebutuhan hidup tersedia berlimpah ruah di bumi ini. Segala kebutuhan hidup itu adalah sebagai anugerah Ilahi yang semestinya diperlakukan menurut hukum-hukumNya yang pasti, baik yang menyangkut kebutuhan pribadi, maupun yang bertalian dengan kebutuhan individu sebagai bahagian tak terpisahkan dari masyarakat dan alam sekitarnya. Tetapi setelah peradaban manusia mengalami perkembangan, maka masalah ekonomi bertambah banyak dan semakin berbelit-belit, terutama setelah manusia telah dikuasai nafsu hewani dan terkungkung di bawah dominasi syethan.
Manusia yang pada dasarnya adalah makhluk sosial, memecahkan masalah ekonomi atas azaz kekeluargaan dan tolong menolong, sebagai hamba ciptaan Allah SWT Yang Maha Kuasa, lalu melakukan penyimpangan. Manusia yang telah berada dalam kedudukan ekonomi yang lebih baik akibat sebab-sebab alamiah, telah menjadi mangsa dari sikap individualismenya: berpendirian picik, dengki, kikir, tamak dan iri hati. Mereka yang telah berada pada kedudukan ekonomi lebih baik, bahkan dengan berbagai cara berusaha merampas kebutuhan hidup orang banyak... Mula-mula masalah ini timbul dalam kelompok kecil, lalu berkembang ke seluruh negeri, dan pada akhirnya mengacaukan hubungan bangsa-bangsa. Sistem kapitalisme yang telah menciptakan suasana internasional yang sangat menyedihkan, memandang bahwa keserakahan manusia bukan saja tidak berbahaya, bahkan merupakan sumber dinamik dari masyarakat kapitalis. Tanpa nilai-nilai dasar kehidupan, tanpa nilai-nilai moralitas religius, yang dengan itulah manusia berhak disebut manusia, maka harta kekayaan yang diperolehnya melebihi dari kebutuhan hidupnya, dan dikuasainya dengan sesuka hati digunakannya dengan dua macam cara: 1. bagi kenikmatan dirinya sendiri, kesenangan, hiburan serta hidup santai dan 2. bagi memperoleh kekayaan yang lebih lagi dan bila mungkin dengan menguasai kekayaan orang lain serta mengangkat dirinya jadi dewa-dewa sesungguhnya. Bagi mereka segala cara dihalalkan, bahkan pemerintahpun dijadikan budak. Seperti dikatakan oleh Milten Friedman, seorang penganut sistem kapitalisme yang memenangkan hadiah Nobel: "... daerah pemerintah harus dibatasi. Tugas utamanya adalah melindungi kemerdekaan kita, baik terhadap musuh-musuh dari luar maupun terhadap bangsa kita: untuk menyeleng-garakan keamanan dan ketertiban, untuk memaksa dipatuhinya kontrak-kontrak pribadi, untuk menjamin pasar yang bersaing secara bebas".
Golongan kaya ini bersikap masa bodoh atas hak-hak orang miskin, yang kebutuhan hidup mereka tidak mencukupi. Menurut golongan kaya ini, sudah pada tempatnya membiarkan orang-orang berkekurangan tadi dalam kemelaratan dan kepapaan. Adam Smith, bapak dari sistem kapitalis mengatakan: "Bukan dari kebaikan hati sang pemotong hewan, sang pembuat minuman, atau tukang roti kita mengharapkan santapan kita... tapi dari kepentingan mereka sendiri. Kita harus berterima kasih bukan kepada kemanusiaan mereka, tetapi kepada kecintaan kepada diri mereka sendiri, dan jangan pernah berbicara kepada mereka tentang keperluan-keperluan kita, tapi tentang kepentingan-kepentingan mereka.
Sistem kapitalis ini bukan hanya menciptakan jurang yang sangat dalam antara si kaya dengan si miskin, bahkan telah menghancurkan tenaga jasmani dan rohani manusia ke derajat terbawah melebihi hewan... Demi memperkembangkan kekayaan, maka mereka menanamkan modal atas nama riba, lebih hebatnya usaha ini mereka namakan sebagai pemberi bantuan kepada negara-negara miskin, yang pada akhirnya menyebabkan negara bersangkutan dililit hutang turun temurun...
Guna menunjang sistem ini maka didirikan lembaga-lembaga internasional, perguruan tinggi-perguruan tinggi yang mencetak profesor dan para sarjana yang tidak sedikit... Ditunjang dengan media informasi dan telekomunikasi canggih, dengan iklan-iklan yang dibiayai sedemikian rupa, seluruhnya bertujuan untuk membenarkan dan menjadikan sistem syethan ini sebagai suatu alternatif rasional bagi ummat manusia...
Untuk meladeni keinginan-keinginan cabul golongan kaya ini, dikerahkan laskar pelacur, perantara dan agen-agen yang tidak tahu harga dirinya. Kebutuhan yang dibuat-buat itu dimasukkan mereka ke dalam daftar yang wajar. Lalu dikerahkan ahli musik, gadis-gadis penari dan seterusnya, dan seterusnya... Beribu-ribu hektar lahan rakyat dirampas hanya untuk dijadikan lapangan golf dan untuk memuaskan kesenangan manusia celaka itu, padahal lahan sedemikian luas dapat diolah untuk memenuhi kebutuhan hidup beribu orang... Atas nama perkembangan dan kemajuan berjuta-juta hektar hutan dihancurkan, lalu dijadikan areal monokultur (sejenis tanaman saja), sehingga merusak keseimbangan alam yang mengakibatkan bahaya banjir dan kelaparan di sana sini.
Kebutuhan yang dibuat-buat golongan kaya itu tiada habis-habisnya. Mereka juga membutuhkan minuman yang memabukkan maka dikerahkan tenaga manusia untuk membuat minuman keras, narkotik dan obat-obat terlarang. Selanjutnya, timbullah kerusakan-kerusakan, kejahatan-kejahatan dan perbuatan perbuatan laknat yang hanya Allah SWT saja Maha Mengetahui... bumi tidak mampu menampung keinginan-keinginan mereka...
Jadi, di samping menghancurkan diri mereka sendiri, golongan kaya yang tamak ini telah menjadikan berjuta-juta manusia sebagai makhluk tidak berguna. Dan tanpa mereka sadari telah melahirkan penjahat-penjahat profesional dan menggiring dunia ke dalam kancah peperangan berkepanjangan... Dunia telah dikapling sedemikian rupa dalam blok-blok yang tiap kapling dihuni oleh manusia yang satu sama lain memandang saling curiga dan saling menerkam...
Apabila kebutuhan hidup rohani dikesam-pingkan dan kebutuhan jasmani dilebih-lebihkan, maka bayangkan saja –meminjam ungkapan Sigmun Freud- bila dua aliran sungai mengalir, lalu salah satunya terhambat, bukankah akan menimbulkan banjir?
Penyelesaian Masalah Menurut Paham Materialisme
Melihat betapa besarnya bahaya yang ditimbulkan oleh sistem ekonomi kapitalis di atas, maka di Barat muncul pemecahan masalah yang diajukan oleh kaum komunis dan sosialis, tapi tetap atas dasar materialisme, anti rohani, dan keinginan hendak menjadikan manusia seragam. Pemecahan masalah menurut kaum komunis dan sosialis adalah sebagai berikut. Alat produksi hendaklah diambil dari tangan perorangan dan dipindahkan ke dalam tangan masyarakat untuk dimiliki secara bersama dan bahwa masyarakat hendaklah pula mengusahakan pembagian kekayaan alam kepada setiap orang sesuai dengan kebutuhan.  (Al-Maududi:34) Menurut Eric Fromm, seorang intelektual Amerika non komunis: ...tujuan sosialisme adalah emansipasi manusia dan emansipasi manusia adalah sama dengan merealisasikan dirinya dalam suatu proses keterhubungan dan kesatuan yang produktif antara manusia dan alam. Tujuan dari sosialisme adalah penembangan kepribadian masing-masing orang. (Agama dan Keke-rasan, 1985:34)
Pemecahan masalah menurut paham di atas sepintas lalu adalah sangat masuk akal, tetapi semakin direnungkan dalam prakteknya, semakin kita sadari bahwa pemecahan masalah ini sama buruknya dengan penyakit yang hendak diobati. Meskipun menurut teoritis pengaturan yang diadakan untuk memanfaatkan alat-alat produksi dan distribusi seakan-akan dipercayakan kepada seluruh masyarakat, dalam prakteknya tugas ini mau tidak mau harus diserahkan kepada suatu badan pelaksana yang kecil. Semula badan yang kecil ini dipilih oleh masyarakat, di kemudian hari apabila seluruh sumber kehidupan ini telah berada di tangannya dan orang seorang sudah tidak dapat lagi memperoleh bahagiannya kecuali melalui tangannya, maka nasib masyarakat terserah kepada badan kecil itu.
Selanjutnya tampil kaum fasis dan nasionalis sosialis mengajukan pemecahan masalah seperti berikut: sungguhpun milik individu atas alat-alat produksi tidak diganggu gugat, pemilikan tersebut hendaklah berjalan sesuai dengan rencana dan pengawasan negara demi kepentingan masyarakat umum. Namun dalam prakteknya sistem ini tidak ada bedanya dengan yang dijalankan kaum komunis. Begitulah sistem komunis sosialis, fasis dan nasionalis sosialis, telah melahirkan tiran-tiran diktator yang mengatas namakan kepentingan masyarakat, demi kepentingan segelintir orang. Negara-negara blok timur yang menganut paham yang bertentangan dengan fitrah manusia ini pada akhirnya runtuh, ditandai dengan runtuhnya tembok Berlin di penghujung abad ke-20 silam.
Pada dasawarsa belakangan terjadilah proses asimilasi antara sistem kapitalis dengan sistem komunis sosialis, dan masing-masing pihak mengambil manfaat dari pihak lain, tetapi karena masing-masing pihak masih didasarkan atas pandangan materialisme dan mengenyampingkan masalah kemanusiaan yang sesungguhnya, maka keadaan masyarakat dunia masih diselimuti kabut hitam.
Saya tidak akan memberikan uraian lebih dalam dari sistem ekonomi materialisme yang dianut masyarakat internasional, di samping keterbatasan ilmu, lebih-lebih lagi ini bukanlah menjadi bidang saya.
Pemecahan Masalah Menurut Islam
Pemecahan masalah menurut Islam adalah sebagai berikut. Bertitik tolak atas dasar bahwa segala yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah, maka manusia hanyalah pelaksana hukum-hukumNya di bumi ini. Manusia tidak memiliki apa-apa selain dari hak milik pinjam pakai dari Pemilik Tunggal yang harus tunduk kepada aturan hukum yang ditetapkanNya. Hak milik bukannya merupakan hak perorangan, dan juga bukan hak sesuatu kelompok atau hak negara, akan tetapi suatu fungsi sosial. Si pemilik, siapa saja ia itu, baik perorangan atau kolektif atau negara, harus bertanggung jawab atas miliknya kepada masyarakat karena ia hanya pelaksana.
Bertitik tolak dari landasan ideal di atas, maka Islam mengemukakan prinsip dasar pemecahan masalah, yang menurut Al-Maududi ada tiga prinsip dasar pemecahan, yaitu sebagai berikut:
Prinsip pertama, dalam menghadapi seluruh masalah hidup, adalah menjadi pokok fundamental dalam Islam bahwa hukum alam dan prinsip-prinsip hidup yang berpadu dalam fitrahnya, manusia tidak boleh dikekang, dan apabila terdapat penyimpangan dari jalan alamiah ini, menjadi kewajiban ummat Islam untuk mengembalikannya ke jalan yang benar.
Prinsip kedua, yang menjadi dasar dari perkembangan masyarakat dalam Islam ialah bahwa masyarakat itu tidak dapat diubah dengan hanya memasukkan sejumlah aturan dari luar, sebaliknya, kita hendaklah memberikan tekanan jauh lebih besar atas perbaikan moral yang benar ke dalam diri manusia sedemikian rupa sehingga kejahatan dapat dikekang sampai ke akar-akarnya dalam hati manusia.
Prinsip ketiga, yang akan dapat dilihat dalam seluruh sejarah Islam ialah bahwa kekuasaan dan tekanan hukum serta kekuatan pemaksaan dari pemerintah hendaklah dihindarkan, kecuali bilamana demikian terpaksa harus dilakukan (Al-Maududi: 43-44)
Islam menetapkan hukum halal dan haram sebagai batasan yang mengekang manusia dalam berekonomi baik dalam memproduksi maupun dalam mengkonsumsi. Dan melarang dengan tegas praktek-praktek monopoli pasar. Kehadiran pasar dapat diterima, akan tetapi harus memberi kepuasan kepada kebutuhan-kebutuhan yang riil, dan cara berfungsinya harus mengikuti norma-norma Islam. Riba merupakan sistem yang sangat berlawanan dengan prinsip ekonomi Islam, selanjutnya menjadikan infak, zakat dan sedekah sebagai bentuk konfrontasi terhadap sistem riba... Dan untuk melembagakan jaminan sosial, maka Islam memunculkan lembaga Baitulmal dan Zakat. Saya pikir, uraian mendalam tentang sistem ekonomi Islam menghendaki waktu dan kesempatan lain... Kepada Allah SWT juga kita memohon taufiq dan hidayah.
(Abdul Muis Mahmud "Himpunan Tulisan UPAYA MENUJU TAQWA" Pustaka Al Fityah, halaman 175) 

Kamis, Januari 06, 2011

INTELEKTUAL DIABOLIK PERUSAK AGAMA

Dalam surat Al A’raf ayat 19 sd 22 Allah SWT menyatakan tentang kelicikan Iblis laknatullah, menggoda dan menjerumuskan Adam dan Hawa, sehingga mereka melakukan pelanggaran:

19.  (dan Allah berfirman): "Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buah-buahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang zalim."

20.  Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan syaitan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)".

21.  Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua",

22.  Maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: "Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: "Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?"

Kelicikan iblis itu senantiasa wujud sepanjang zaman…

Dalam dunia intelektual, kelicikan itu dapat berbentuk “diabolisme intelektual”… Diلbolos adalah Iblis dalam bahasa Yunani kuno, menurut A. Jeffery dalam bukunya the Foreign Vocabulary of the Qur'an, cetakan Baroda 1938, hlm. 48. Maka istilah "diabolisme" berarti pemikiran, watak dan perilaku ala Iblis ataupun pengabdian padanya. Dalam kitab suci al-Qur'an dinyatakan bahwa Iblis termasuk bangsa jin (18:50), yang diciptakan dari api (15:27). Sebagaimana kita ketahui, ia dikutuk dan dihalau karena menolak perintah Tuhan untuk bersujud kepada Adam. Apakah Iblis atheist? Tidak. Apakah ia agnostik? Tidak. Iblis tidak mengingkari adanya Tuhan. Iblis tidak meragukan wujud maupun ketunggalan-Nya. Iblis bukan tidak kenal Tuhan. Ia tahu dan percaya seratus persen. Lalu mengapa ia dilaknat dan disebut 'kafir'? Di sinilah letak persoalannya.

Kenal dan tahu saja, tidak cukup. Percaya dan mengakui saja, tidak cukup. Mereka yang kafir dari kalangan Ahli Kitab pun kenal dan tahu persis siapa dan bagaimana terpercayanya Rasulullah SAW, sebagaimana orangtua mengenali anak kandungnya sendiri (ya'rifunahu kama ya'rifuna abna'ahum). Namun tetap saja mereka enggan masuk Islam.

Jelaslah bahwa pengetahuan, kepercayaan, dan pernyataan harus disertai dengan kepatuhan dan ketundukan, harus diikuti dengan kesediaan dan kemauan untuk merendah, menurut dan melaksanakan perintah. "Knowledge and recognition should be followed by acknowledgement and submission, " tegas Profesor Naquib al-Attas. (lihat, Dr. Syamsuddin Arif,MA, Diabolisme Intelektual/ Melawan Fitnah Jaringan Iblis Liberal/ Kompilasi ke CHM: pakdenono 2006: wewewepakdenonodotkom )

Intelektual diabolik adalah perusak agama yang paling membahayakan, menyusup ke dalam jantung Islam dan menghancurkan sendi-sendi bangunan Islam secara sistematis dan terencana… Kaum intelektual diabolik senantiasa melontarkan gagasan dan pemikiran yang membingungkan, menyebar keragu-raguan kepada ummat dengan memakai istilah-istilah yang berbelit-belit dan rumit… Tetapi, tidaklah sulit untuk mengidentifikasi mereka karena ciri-ciri mereka telah dijelaskan Allah SWT di dalam Al Quran…. Dan… Di sini saya salinkan tulisan Dr. Syamsuddin Arif, MA (ibid) sebagai berikut:

Pertama, selalu membangkang dan membantah (6:121). Meskipun ia kenal, tahu dan faham, namun tidak akan pernah mau menerima kebenaran. Seperti ingkarnya Fir'aun berikut hulu-balangnya, zulman wa 'uluwwan, meskipun dan padahal hati kecilnya mengakui dan meyakini (wa istayqanat-ha anfusuhum).

Maka selalu dicarinya argumen untuk menyanggah dan menolak kebenaran demi mempertahankan opininya. Sebab, yang penting baginya bukan kebenaran, akan tetapi pembenaran. Jadi, bukan karena ia tak tahu mana yang benar, tetapi karena ia memang tidak mau mengikuti dan tunduk pada kebenaran itu. Jadi jangan heran bila selalu saja ada cendekiawan yang meskipun nota bene Muslim, namun sifatnya seperti itu. Ideologi dan opini pemikirannya yang liar lebih ia pentingkan dan ia pertahankan ketimbang kebenaran dan aqidah Islamnya.

Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap membangkang semacam ini disebut juga al-'inadiyyah (Lihat: Abu Hafs Najmuddin Umar ibn Muhammad an-Nasafi (w. 537 H/1142 M), al-'Aqa'id, dalam Majmu? min Muhimmat al-Mutun, Kairo: al-Matba'ah al-Khayriyyah, 1306 H, hlm. 19).

Kedua, intelektual diabolik bersikap takabbur (sombong, angkuh, congkak, arrogans). Pengertian takabbur ini dijelaskan dalam hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (no.147): "Sombong ialah menolak yang haq dan meremehkan orang lain (al-kibru batarul-haqq wa ghamtu n-nas)".
Akibatnya, orang yang mengikuti kebenaran sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur'an atau hadis Nabi SAW dianggapnya dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain sebagainya.
Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, berpandangan relativistik dan skeptis, menghujat al-Qur'an maupun Hadis, meragukan dan menolak kebenarannya, justru disanjung sebagai intelektual kritis, reformis dan sebagainya, meskipun terbukti zindiq, heretik dan bermental Iblis.

Mereka bermuka dua, menggunakan standar ganda (2:14). Mereka menganggap orang beriman itu bodoh, padahal merekalah yang bodoh dan dungu (sufaha'). Intelektual semacam inilah yang diancam Allah dalam al-Qur'an : "Akan Aku palingkan mereka yang arogan tanpa kebenaran itu dari ayat-ayat-Ku. Sehingga, meskipun menyaksikan setiap ayat, tetap saja mereka tidak akan mempercayainya. Dan kalaupun melihat jalan kebenaran, mereka tidak akan mau menempuhnya. Namun jika melihat jalan kesesatan, mereka justru menelusurinya" (7:146).

Ciri yang ketiga ialah mengaburkan dan menyembunyikan kebenaran (talbis wa kitman al-haqq). Cendekiawan diabolik bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Namun ia sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Yang batil dipoles dan dikemas sedemikian rupa sehingga nampak seolah-olah haq.

Sebaliknya, yang haq digunting dan di'preteli' sehingga kelihatan seperti batil. Ataupun dicampur-aduk dua-duanya sehingga tidak jelas lagi beda antara yang benar dan yang salah. Strategi semacam ini memang sangat efektif untuk membuat orang lain bingung dan terkecoh.

Contohnya seperti yang dilakukan oleh para pengasong gagasan inklusivisme dan pluralisme agama. Mereka mengutip ayat-ayat al-Qur'an (2:62 dan 5:69) untuk menjustifikasi pemikiran liarnya, untuk mengatakan semua agama adalah sama, tanpa mempedulikan konteks siyaq, sibaq dan lihaq maupun tafsir bi l-ma'tsur dari ayat-ayat tersebut.

Sama halnya yang dilakukan oleh para orientalis Barat dalam kajian mereka terhadap al-Qur'an dan Hadis. Mereka mempersoalkan dan membesar-besarkan perkara-perkara kecil, mengutak-atik yang sudah jelas dan tuntas, sambil mendistorsi dan memanipulasi (tahrif) sumber-sumber yang ada. Hal ini tidak terlalu mengejutkan, mengingat kebanyakan mereka adalah Yahudi dan Nasrani yang karakternya telah dijelaskan dalam al-Qur'an 3:71, "Ya ahla l-kitab lima talbisuna l-haqq bi l-batil wa taktumu l-haqq wa antum ta'lamun?" Yang sangat mengherankan ialah ketika hal yang sama dilakukan oleh mereka yang zahirnya Muslim.     

Demikianlah, semoga Allah SWT melindungi kita dari kejahatan iblis dan intelektual diabolik, laknatullah… Amin!

UG-Kamis, 06 Januari 2011 pukul 6:20:57